Monday, December 29, 2008

Kami Menulis Tentang Hari Raya Qurban dan Bagaimana Menjadi Binatang

            Ichul

Lebaran Bersama Tape

Bersilaturahmi kebeberapa daerah bugis saat lebaran sedianya kita akan disajikan makanan khas daerah, Makanan bulat dengan sedikit kuah pada alas piring kecil mungkin adalah salah satu pengisi lambung yang akan kita temui. Yah, Tape penganan khas bugis, Gambang sebutan dalam versi bahasa local. Menurut beberapa teman penganan ini juga bisa ditemui dibeberapa daerah dikalimantan namun dengan model penyajian yang berbeda. Tape Kalimantan dibungkus dengan daun pisang dan biasanya juga disajikan langsung didalam toples. Walau dapat ditemui didaerah lain tape tak serta merta tak bisa disebut pengananan khas bugis, sebab konon, lanjutan dari cerita teman saya Kalau tape dibawah ke  Kalimantan oleh perantau bugis yang memang banyak menetap disana.

Makanan satu ini tak pernah absen mengisi tiap perayaan hari- hari besar islam,tapi saya kira kita tak perlu banyak berkutat pada pertanyaan seputar apa hubungannya, Islam dan Tape??!.

`     Pertanyaan diatas tersebut tentunya akan membawa kita pada penelusuran jauh pada pertanyaan yang lebih banyak lagi : Misalnya sejak kapan tape diciptakan, Siapa yang ciptakan, orang bugis kah atau dari luar, Sampai pada pertanyaan mengapa tape hanya disajikan pada perayaan islam. Sepintas jawaban sedikit menghibur kuingat dari seorang teman, Tape adalah penganan tahan lama untuk tamu maka disajikan diperayaan seperti lebaran ynag waktu silaturahminya panjang sampai berhari-hari. Selajutnya Untuk lebih menyederhanakan masalah ini kalau bukan lari dari masalah rumit oleh terbatasnya literatur tentang Tape, maka kita cukup menjawab semuanya dengan sebuah tesis, bahwa semua komunitas lokal di Nusantara ini akan menyajikan makanan khasnya masing- masing di tiap hajatan keagamaannya.     

Tape memang sedikit mengherankan bila melihat waktu penyajiannnya, kita tak akan mendapatkannya pada saat upacara adat ataupun pada acara pernikahan masyarakat bugis, penganan ini sepertinya hanya wajib hadir pada saat lebaran idul fitri, lebaran haji , Maulid nabi , Isra mi’raj serta hajatan islam lainnya. Tamu yang berislaturahmi kadang tanpa harus dsajikan makanan berat terlebih dahulu langsung mengembatnya walaupun layaknya tape adalah penganan pencuci mulut, entah sebab kerinduan karna tape nyaris tak dapat ditemui pada hari- hari biasa, mungkin juga oleh rasa khas tape, manis campur asam.

Hitam, Putih dan Merah adalah tiga warna tape, Warna yang ada pada tape bukan menyimbolkan apa-apa, warna ini hanya disesuaikan dengan bahan dasar beras ketan yang memang hanya punya tiga warna. Secara singkat cara pembuatanya dimulai dengan mengukus ketan sampai lembek, tahap selanjutnya ketan yang lembek dan bisa saling merekat akan dibentuk bulat- bulat seukuran bola pimpong, ketan bola pimpong yang telah diletakkan pada wadah kemudian dicampur atau ditaburi Ragi secukupnya. Ragi pada ketan tentunya dipakai untuk membantu proses permentasi yang akan berlangsung tiga sampai tujuh hari setelah wadah ditutup rapat.

Penentuan  waktu tak luput dari perhatian sang pembuat tape. Lama proses permentasi akan menentukan rasa yang diinginkan, rasa manis dan asam akan semakin keras terasa bila wadah dibiarkan tertutup sampai tujuh hari atau lebih. Selain masa permentasi, pilihan warna ketan mengikut. Ketan hitam kebanyakan menjadi favorit. Kesan rasa asam manis yang lebih didapati pada hasil permentasi tape berbahan ketan hitam.

Sebagai mana pernak pernik peradaban lokal yang lain, termasuk makanan yang satu ini tak lepas dari mitos, seloroh seorang  teman. Hhmm, Baru menengar juga kalo Tape punya mitos. konon menurut teman tadi, Tape  tak akan kita temui didaerah atau dikota antara, tempat yang biasanya jadi tempat persinggahan perjalanan antar kota misalnya didaerah leppangeng kecamatan lapri yang berada di poros Bone- Makassar, daerah leppangeng selalu menjadi tempat singgah dan istirahat. perjalanan yang melelahkan dari makassar ke bone atau sebaliknya, daerah tersebut menjadi pilihan karna tepat barada ditengah hingga tak luput sejumlah warung makan kita temui.

 Namun mitos ini lanjut teman tadi hanya berlaku bagi keberadaan tape ketan hitam. Menurut cerita dahulu tiap orang yang singgah dan mencicipi tape hitam ditempat itu akan mendapatkan celaka ketika melanjutkan perjalanannya. Contoh daerah lain yang akan sulit ditemui jenis tape hitam adalah daerah Barru, tempat singgah perjalanan dari makassar ke kota lain arah utara pulau sulawesi, begitulah temanku menutup cerita tentang mitos tape sambil bertanya padaku dalam logat makassar : kenapa di’ warna hitam selalu menjadi tanda tiap hal buruk?, termasuk warna kulitmu jawabku. Hahaha….

Ledakan tawa yang menutup pembicaraan tentang mitos tape tadi segera mengingatakanku.  Ingat pada teman masa kecilku Ancu, yang rutin mencuri air tape buatan ibunya saat lebaran, air tape tersebut kemudian kami kemas dalam botol mineral untuk selanjutnya di tanam dalam tanah untuk dipermentasi sederhana selama seminggu. Hasilnya bisa ditebak, air tape tersebut kemudian rasanya akan serupa dengan tua’( minuman keras ala bugis). Meminumnya bersama Ancu bagiku akan menimbulkan kelucuan tersendiri, Ancu selalu menikmati tua’ sambil acting, berpura-pura mabuk dengan memperagakan jurus mabuk ala kungfu film mandarin sambil menggenggam botol araknya.

Mata sipit Ancu memang meyakinkan, tertawa terpingkal-pingkal akan membuat bola matanya tak terlihat. Adegan Tambahan yang melengkapi rasa terhiburku. Sedikit kebodohan dan kenakalan masa kecil tadilah yang menyambung kesan istimewaku pada Tape atawa Gambang, Walau asam manisnya kadang membuatku enggan untuk mencicipinya.              

Icul,desember 08


            Muslina

 

Debu

Debu! Kotoran tipis yang menyelimuti seluruh permukaan meja keramat persegi, tempatku belajar sekarang ini. Kotoran yang juga dapat terbang kemana pun ia menghendaki.

Saya mengenalnya sebagaimana ia, namun beberapa bulan belakangan ini, saya begitu menggilai. Bukan sebagai kotoran tentunya.  Tapi DEBU sebagai komunitas orang muda, yang menebarkan indahnya cinta lewat lagu. Ia terbang dan menghinggapi setiap telinga pencinta, mengabarkan indahnya cinta dengan kasih sayang.

Kutempelkan tanganku pada meja persegi di hadapanku ini. Debunya sudah sangat tebal. Mungkin sudah lama tak dibersihkan, benakku. Sambil menyeka debu yang menempel, aku kembali memikirkan DEBU, artis idolaku saat ini. Aku jadi teringat pada senyum manis Nasheem. Sudah lama aku memikirkannya. Dengan balutan modis setiap pakaian yang di rancang sendiri dan polesan wajah yang indah selayaknya artis papan atas. Ia selalu tersenyum, memamerkan keramahannya. Tak disangka ia juga pengagum sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya.

Ah, ada yang terlupa, janji Saleem untuk mengirimkan aku foto yang di ambil lewat kameranya. Di foto itu ada aku, temanku Lis dan si lincah Abdillah. Aku harus menagihnya untuk aku pamerkan ke teman-temanku sesama pengagum DEBU.

Teman di sampingku bersin. Namanya Ais. Mungkin ia alergi debu, karena sejak tadi ia berusaha membebaskan dirinya dari debu yang menempel di meja dan kursi yang ditempatinya untuk duduk, sambil sesekali bersin. Aku menyodorkan sapu tangan untuknya untuk membersihkan tangannya dan sekedar bersimpati atas derita kecil yang menimpanya.

Tapi ia sudah mengganggu khayalanku pada Nasheem, Saleem dan Abdillah. Akhirnya, tanpa membuat ia hirau, aku bereskan peralatanku, lalu pindah ke tempat yang lebih nyaman dan aman dari bersinnya. Walaupun aku tidak bersemangat lagi mengkhayalkan DEBU sang artis idolaku saat ini.

 

 

Semut Hitam Dalam Ayunan

 Aaaaaaaaawww. Angin bertiup kencang. Peganganku hampir saja terlepas dari papan busa besar ini. Huh! dasar manusia raksasa. Mengapa ia begitu kencang mengayunkan papan ini. Aku kan ada di sini. Sejak tadi aku tertidur di papan busa empuk ini. Aku seorang diri. Kawananku sedang berburu makanan putih empuk yang rasanya hambar namun mengenyangkan. Sebenarnya aku juga ikut di dalam rombongan teman-temanku yang sejak pagi tadi sudah keluar dari sarang untuk tujuan ini. Tapi karena jalanku lamban, aku tertinggal dan tersangkut pada tumbuhan hijau kecil di taman. Sampai seorang manusia raksasa datang menabrakkan benda hitam lonjong bertali sebagai alas kakinya tepat diatas tanah, dekat tumbuhan hijau tempatku berada. Aku terlempar dan tak sadarkan diri. Pada saat kembali sadar, aku sudah berada di atas besi emas dekat alas kaki hitam sambil terayun-ayun lembut.

Aku mulai memeriksa seluruh tubuhku dengan kesadaran penuh. Mudah-mudahan saja tak ada yang kurang, gumamku. Aku mulai bergerak pelan, bergerak ke atas menyusuri besi emas ini. Sambil merayap, aku berharap tempat yang ada diatas jauh lebih nyaman. Perlahan, sambil menoleh ke bawah, aku merinding karena aku sudah berada di ketinggian setinggi tunas pohon. Ah, aku sampai di tepian papan berbusa. Papan ini begitu indah, diatasnya terhampar busa empuk seperti alas tidur. Sandarannya terbuat dari besi yang di cat warna emas. Penyangga papan dan sandaran besinya juga terbuat dari besi persegi yang apabila terlihat dari kejauhan bentuknya seperti rumah. Indah sekali, tempat ini jauh lebih nyaman dari sarang kami yang dingin dan gelap di dalam tanah.

Aku mengamati seputar papan busa ini. Pemiliknya, seorang manusia raksasa yang ukurannya lebih kecil dari pengayunnya, sedang asyik bermain dengan beberapa mainan di dekatnya. Mainan terdekat dari aku, sebuah panda berbulu putih hitam. Tapi binatang ini tak bergerak, juga tak mengeluarkan suara. Mungkin sudah mati, aku tak tahu. Ia tergeletak diam menunggu tuannya membelai bulunya yang lembut, mungkin. Aku jadi teringat pada saudara sepupuku. Seekor semut hitam manis yang sangat baik hati. Ia selalu mengajakku bermain di bawah pohon besar rindang dekat sarangku. Ia juga berukuran lebih besar dariku, mungkin karena kesukaannya akan makanan yang melebihi aku. Ia seringkali berbagi jatah makanannya denganku, terlebih jika aku malas untuk ikut dengan kawananku berburu makanan. Ia selalu memberikan jatah makanannya. Mmh, aku merindukannya. Namanya Wiya. Sekarang ia harus ikut bersama orang tuanya untuk berburu makanan ke tempat yang lebih jauh dan juga untuk mencari sarang yang baru. Sarang yang kami tempati berada di hutan kecil, tidak jauh dari ayunan tempatku berada sekarang. Konon katanya keluarga Wiya akan mencari hutan kecil, yang di dekatnya terdapat sebuah danau kecil. Jarak tempuhnya adalah dengan berjalan seharian penuh dari tempat kami berada sekarang. Mudah-mudahan Wiya baik-baik saja sekarang.

Aku kembali mengamati si manusia raksasa. Ia menyelimuti binatang Pandanya dengan kain seukuran binatang itu. Sepertinya kain itu begitu lembut, kesan dari warna biru muda yang aku rasakan. Ibuku pernah bercerita bahwa warna terkadang dapat mengekspresikan kepribadian seseorang. Warna biru, kata ibuku, melambangkan kepribadian yang tenang, lembut dan cerdas. Ibuku sangat menyukai warna itu. Dari cerita ibuku itu, aku selalu menginginkan warna biru lembut. Meskipun kulitku yang hitam gelap tak pernah sepadan dengannya.

Aku bergeser ke tengah papan busa ini. Aku tepat berada di samping manusia raksasa. Aku melihat langit. Sudah sangat terang dan panas. Yah, hari sudah siang. Tiba-tiba, Aww! Perutku sakit. Ya ampun! Aku belum makan. Aku berputar-putar. Mmmmhh, wangi. Bau makanan. Asyik, asyik….. aku menemukan remah-remah. Rasanya seperti busa, padat tapi lembut, rasa hambar tapi mengenyangkan. Meski tak terlalu banyak, tapi cukuplah untukku. Wah! Apa ini? Seperti wangi manisan. Aku jilat, manis dan enaaakk. Tapi ups, apa lagi ini? Seperti tikar kecil. Keras seperti daun kering. Warnanya putih tapi kotor. Kujilat, manis dan waaaahhh!!!!! Aku berguling ke kiri, ke kanan. Manisan ini menempel pada tikar keras. Warnanya coklat, manis dan banyak. Senangnya! Ah, aku tidak menyesal tertinggal dari kawananku. Tapi makanan ini tak mampu kubawa pulang. Kalau begitu, aku habiskan saja sekarang.. ha..ha..ha..

Kedua raksasa ini tiba-tiba mengeluarkan suara yang keras. Mereka bercakap-cakap. Tak lama setelahnya, mereka meninggalkan ayunan ini. Wah, aku bisa santai. Tak ada raksasa dan juga tak ada hewan yang akan menggangguku. Santai dan kenyang.

Tapi, tunggu! Ada yang menggangguku. Tak jauh dari tepian papan busa ini, ada sebuah mainan. Yah, seperti bentuk manusia raksasa tadi. Bagian tubuh atasnya terurai rambut panjang berwarna kuning keemasan. Tubuhnya jauh lebih kecil dari manusia raksasa. Kulitnya putih, matanya biru dan setengah dari badannya dibalut kain berwarna merah jambu. Bentuknya sangat indah. Aku mencoba membayangkan kawananku. Kira-kira siapa ya yang mewakili perawakan mainan ini? Yah, aku ingat. Teman sebayaku, namanya Nia. Meskipun hitam, tapi gerakannya gemulai. Suaranya lembut kala ia berbicara. Ia jarang memarahi temannya. Dan satu lagi, ia adalah semut tercantik di kawanan kami. Mainan indah itu menggenggam tongkat hitam kecil. Saya berlari menuju tongkat itu. Berjalan diatasnya dan mencoba merasakan kekuatannya. Yah, tongkat ini begitu kuat, sekuat batang pohon muda di hutan sana. Tongkat ini panjang, ukurannya akan sama dengan lima puluh semut hitam berbaris tanpa terputus. Ups, kaki saya terpeleset. Hampir saja terjatuh. Tongkat ini sangat licin dan mengkilap disertai ukiran indah pada ujung bawahnya. Saya pernah mendengar cerita dari nenek saya. Konon katanya manusia sangat senang mengukir badan, kaki dan tangannya. Mereka senang akan keindahan dan mengukirkannya pada tubuh. Terkadang juga ukiran dapat bermakna mantra untuk mengusir roh jahat dalam diri manusia.

Ketenangan dan kenikmatan yang aku alami dalam ayunan ini harus terhenti sejenak. Tiba-tiba saja ada manusia raksasa yang datang. Badannya dibalut dengan kain berwarna putih. Di bagian tubuhnya paling atas juga mengenakan kain berwarna putih. Ia dengan sigap membersihkan semua mainan yang ada di ayunan. Mengambilnya satu per satu dan meletakkannya dalam wadah  bundar yang sangat besar. Tanpa berpikir panjang aku berlari sekuat tenaga dan menghiraukan semua yang ada di sekelilingku. Pandanganku tertuju hanya ke depan, mencari jalan yang tercepat untuk sampai ke tanah. Wah, selamat. Aku melompat dari ayunan. Badanku terguling ke tanah. Dan berlari menuju hutan tempat sarang dan kawananku berkumpul.

” Bangun…. bangun! Hari sudah sore, nak ”. Ibu membangunkan aku. Rupanya aku hanya bermimpi. Seekor semut hitam pemalu tiba-tiba mempunyai keberanian melakukan perjalanan mengasyikkan seorang diri. Wah! Semoga saja kelak mimpiku bisa menjadi nyata. Aku dapat berpetualang menikmati indahnya peristiwa alam dan menikmati hidup.

 

            Agung

 

Selamat Hari Daging, Dewiku

Hingga pukul 21.48 WITA Parlan terus memegangi buku yang sebenarnya tidak dia baca. Menggencet busa filter rokok dengan bibirnya, nampak mengempes dengan kemilauan cahaya air dipinggirannya. Dilingkarnya ada tukikkan lubang berbentuk gigi, pasti dia menggigit halus rokok yang sudah terbakar melewati dua garis merah pembatas tembakau dengan filter. Dibukanya terus buku itu hingga lecak terlipat, seperti kitab terbedah oleh ahli kitab. Tapi semua tahu dia tidak sedang membaca. Keyakinan makin menguat dengan melihat matanya menatap kosong, mata yang menatap rumahnya yang berjarak puluhan kilometer dari tempat duduknya. Bahasa tubuh itu sungguh aneh, gerak ingin segera beranjak namun senantiasa ada puluhan tali rapiah meliliti tubuh 65 kilogram itu. Langit-langir ruangan sigap menghimpit rendah berusaha membuat Parlan enggan bangun dari duduknya. Langit-langit ini bekerja sama dengan pintu ajaib itu. Pintu yang berubah menjadi hamparan vertikal permukaan setrika, benda panas yang pernah membakar habis baju kesayangan Parlan, hadiah ulang tahun dari Leni delapan tahun yang lalu. Delapan tahun yang lalu bukan hanya sebagai tahun terburuk bagi baju kesayangan Parlan, tapi juga sepedanya yang digantung tantenya di atas pohon mangga hingga berlumuran karat karena air hujan. Juga buat Bobi, seekor burung peliharaan Parlan yang kerap menemaninya sarapan mi goreng dan telur godok yang mereka santap bersama. Bobi mati di tahun itu. Yang memperparah kematiannya adalah Bobi hangus terbakar tertindih strika panas setelah membakar hangus baju kesayangannya itu. Setrika itu terjatuh saat Parlan meninggalkannya dengan kesal. Parlan kesal karena tantenya mendesaknya untuk menaikkan sepedanya sendiri ke atas pohon mangga. Itu adalah hukuman yang dijatuhkan padanya karena tantenya kecewa dengan sikap Parlan yang jarang di rumahnya sendiri.

Sepertinya hujan baru saja turun menertawai Parlan, atau kasihan melihatnya. Seluruh geliat lampu jalan yang menari melintasi mata Parlan. Satu-persatu melompati Parlan yang melamun, namun sedikit terjaga menatap keluar jendela ankutan kota malam itu. Tidak ada yang dikenalnya, sesaat itu dia menjadi asing dengan sistem sosial yang berlaku di atas angkutan kota. Semua manusia saat itu sibuk dengan pikirannya, Parlan justru sibuk memukuli jiwanya dengan gelas berisi kopi agar hilang rasa ngantuk itu. Saat terjaga, telinganya berdelik mendengar nyanyian Leni dari sebuah radio kendaraan. Suaranya begitu keras, cukup untuk membuat kesal orang di sebelahnya yang hendak menerima panggilan lewat handphonnya. Memerah wajah Parlan ketika nyanyian itu berganti dengan ucapan selamat hari raya kurban bagi yang merayakannya pada sebuah iklan radio. Parlan menampakkan ketidak puasannya karena sedang asik mendengar suara kekasihnya itu. Ingin dia protes atas hal itu. Tapi sekali lagi, dia tidak mengenal sopir angkutan pemegang kendali kendaraan yang bisa membawanya pergi kestasiun radio, atau mengenal operator radio yang mengendalikan suara apa yang akan diperdengarkan lewat udara selanjutnya.

Banyak sekali makanan terhampar di atas meja. Acara apa yang punya kekuatan hingga mampu mengundang banyak hidangan. Ketika Parlan masuk, seluruh keluarganya asik bercerita tentang kegembiraan. Parlan merasakan keceriaan itu dari pemandangan tawa, teriakan, Kemenakan-kemenakan yang terus berlarian, kerabat lain yang menikmati minumannya dan televisi yang tidak lagi menarik buat mereka, setidaknya untuk saat itu. Mereka yang di dalam ruangan menjadi selebritis bagi tempelan dinding penghias. Sovenir, lukisan, foto-foto keluarga, buku-buku pajangan dalam lemari, semuannya jadi penonton keceriaan mereka. Temasuk Parlan yang baru saja tiba di rumahnya. Namun udara kamar parlan yang sejak lama ditinggalkannya, telah menariknya dengan tali lasso tepat dileher rasa malasnya. Selimut-selimut keringat telah mempermalukan aroma wangi sabun mandi, kotoran-kotoran yang terselip di sela-sela gigi memenangkan perang aroma pasta gigi. Tidurlah parlan, lupakan kotoran itu, rasa malas lebih giat merayunya. Rayuan berkoalisi dengan kasur hangat, ditambah aroma tanah yang dibasahi air hujan serta udara sejuk hujan tropis.

Dengan menutup wajahnya, Parlan memulai angannya untuk mendapat mimpi terindahnya di hari yang biasa ini. Menjadi raja di negeri nan makmur, menjadi sepupu Nabi Yusuf sampai bertemu kekasihnya, Leni seumur hidup mimpinya. Tertidur dan bersiap untuk hal membosankan.

Parlan terbangun oleh alaram khas Tantenya yang telah siap sejak tadi dengan kostum kebangsaannya, sebuah busana muslim merah hati lengkap dengan kerudung dan sajadah dan gulungan koran terselip di lengannya. “Pergi shalat Parlan, sudah jam enam!” sambil menyodorkan tiga lembar uang pecahan seribu rupiah diletakkan di atas meja yang jumlahnya itu sesuai jumlah kotak amal yang akan disodorkan petugas masjid saat ceramah nanti. Ritual pun dia lalui, padahal sejak lama Parlan selalu mengingat Tuhannya, disetiap gelisahnya, tawanya, masalahnya, langkahnya bahkan keraguannya. Namun masjid menjadikan Tuhan itu terpenjara. Terpenjara dalam desakan sav, dalam pengeras suara kebesaranNya, dalam lantai putih penjaga masjid, dalam mimbar tempat telapak uztad, pintu yang tertutup rapat saat usai waktu sahalat, dalam keran air wudhu pembersih najis dan kubah besar kesombongan manusia yang meletakkan bulan serta bintang buatan Tuhannya.

Setelah kembali masuk dalam rumah, Tantenya menyodorkan lagi empat lembar kertas dan memerintahkan agar Parlan bergegas kembali ke masjid untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban sumbangan warga. Hal yang paling Parlan sukai saat kecil adalah melihat proses itu bersama Ayahnya. Berdiri sambil memeluk kakinya, sesekali menutup matanya dan menangis sedih melihat hewan yang rubuh terhempas terlilit tali. Hewan itu sepertinya tidak ikhlas darahnya akan dikuras dan dagingnya masuk dalam panci berisi bumbu kare. Tapi sekarang Parlan sendiri menyaksikannya dari kejauhan. Ada lima sapi yang akan disembelih, satu-persatu hewan itu dikuliti namun Parlan masih bingung dengan empat lembar kertas bertuliskan nama lengkapnya. Ketika sapi terakhir hendak dirubuhkan, terdengar imam masjid memanggil nama Parlan, lengkap dengan nama Ayahnya untuk segera mendekat menyaksikan langsung, seraya berdoa dihadapan kurban. Hewan itu dikurbankan atas namanya. Parlan yakin benar dia tidak pernah mengeluarkan uang jajannya untuk membeli seekor sapi. Atau Ayahnya membelikannya sebagai ganti warisannya yang Parlan pikir hanya hutang yang ditinggalkan saat meninggalkannya. Sekali lagi Parlan diperintahkan untuk mengikuti petunjuk ritual serta ajiannya. Tapi dia masih binggung sekaligus terharu sampai-sampai bukan doa yang Parlan lafazkan, tapi ucapan, “Selamat hari daging, semoga semua manusia bisa menikmatinya hari ini.”

Parlan merasa kurang nyaman sejak saat itu, apalagi setelah tahu bahwa Tantenya membeli seekor sapi untuk dikurbankan atas namanya. Suasana keakraban yang biasa hadir diantara mereka hilang dalam beberapa saat. Dingin, sedingin daging sapi beku dalam frezer. Parlan bingung dengan sikap diam Tantenya, yang tidak memberitahukan niatnya untuk membelikan Parlan seekor sapi. Parlan rasakan telah menjadi Nabi Yusuf, bukan lagi sepupu Nabi Yusuf dalam harapan mimpinya. Nabi Yusuf yang mengurbankan ketampanannya untuk ditutupi kosmetik. Kosmetik yang mampu menutupi keindahan wajahnya dari mata-mata kotor berdebu. Dan Parlan menganggap Tantenya sebagai dewi yang memberikan wajah indah pada Nabi Yusuf, cinta seorang Ibu.

 

Untuk dia yang dingin, acuh tapi diam-diam menyayangiku, bukannya aku tidak memperhatikanmu, aku hanya manusia yang tidak mampu membalas kebaikanmu. Percayalah aku juga menyayangimu seperti kau menyayangi keluargamu.

 

Peliharaan HaramMu

Huff.. ada lagi yang harus kulakukan. Padahal tadi aku pikir itu yang terakhir. Terakhir untuk hari ini, dan saatnya istirahat. Kurasakan tadi waktu begitu panjang mengerjaiku yang terlihat lelah. Waktu sengaja mengolok-olokku karena dia tahu aku sedang lelah. Aku yang terus memperhatikan waktu. Namun semakin aku perhatikan jam yang bertengger itu, semakin gemulai putaran jarum lambannya. Aku telah melemparnya hingga berkeping-keping. Melemparnya dengan tatapan harapan dan kebencian yang membuatnya terpelanting jauh menuruni jurang curam dinding. Aku tertawa saat itu. Tertawa memamerkan rapinya gigiku, warna segar lidahku dan coba menertawai semua yang berharap jam itu akan berhenti. Yang pasti diriku yang bergigi jarum jam warna perak emas.

Aku tahu alurnya, setelah ini aku pasti akan memperkenalkan dirilku. Diriku pada paragraf sempit sekitar empat sampai delapan baris. Yang pasti aku giat melakukan sebuah terapi dengan lidah, bagian dari tubuhku yang kerap aku gunakan. Setiap helai bagian tubuhku disapu dengan permukaan lembab agak basah, namun hangatnya terasa singgah lama, walau angin terus membumikan sejuknya. Inderaku yang kedua adalah penciuman. Mengapa kusebut kedua, karena aku berharap semuanya yang akan  menggambarkan diriku, akan berfikir seperti yang aku inginkan. Cukup terampil menghidu makanan apa yang dimasak oleh nyonya Fani, lima ratus meter dari tempat buluku menyentuh kayu rumah. Namun sekeras apapun aku melakukannya, mereka masih saja menganggap aku makhluk haram. Semua cara telah kutunjukkan pula untuk menampakkan keistimewaanku yang lain, tapi usaha itu membuatku menggali air ditengah lautan dengan sendok makan. Aku yang mereka kenal tetap saja haram, bukan sigigi tajam.

Ruang tempatku selalu berlari ini begitu luas untuk tubuhku, tapi tidak untuk hatiku dan penciumanku. Dengan letak gedung berjejer rapi menjulang keatas serta jalan aspal yang mulus terus mengasah kuku jariku untuk tetap halus. Oval park adalah tempat kesayanganku. Rumput yang tumbuh disana begitu hijau, mungkin jika seekor kambing kelaparan berada disana, dia tidak akan menghukum dirinya ketika tidak berusaha untuk memakan ruh segar hijau itu. Diruang yang sering mereka sebut kota ini, telah menghancurkan sebagian besar indera yang aku miliki, apalagi bagian dari diriku yang paling aku banggakan. Untunglah aku memiliki kesabaran, apa yang tersisa dari diriku. Namun aku tetap dianggap haram, bukan si pemaaf kesalahanmu dan kesalahanku.

Kini aku tidak lagi menelan air liur, karena akulah yang paling berhak atas cairan penggerak lekukan kerongkonganku. Lekukan yang bergerak dengan tonjolan berjalan kearah bawah, yang dapat dilihat saat aku menelan air itu. Aku memutuskan tidak menelannya lagi, aku belum meminum air dari luar tubuhku sejak dua hari ini. Air itu begitu keruh dengan bayang-bayang pelangi diatas permukaannya. Jika aku meminumnya kurasa sedang menelan lumpur bercampur minyak tanah, rasa kecut yang aneh. Konon air yang dulu biasa aku minum di parit seberang tempat tinggalku, jika diminum dapat membuatku nampak segar dan awet muda. Sekarang jagankan meminumnya, melihatnya saja cukup membuat mataku berubah jadi merah oleh uap hangatnya. Kini tidak ada lagi air dari kelenjar liurku, yang tersisa adalah aku yang haram, walau tidak lagi ada air liur haram yang aku miliki.

Aku sering ditokohkan dalam lakon yang sama sekali aku tidak sukai. Pemalas, terlihat sedikit bodoh, kasar dan tidak kalah kejam dengan tentara bayaran. Ini biasa aku lihat dalam film animasi anak-anak jenis mahluk sepertiku digambarkan untuk berlaku general. Televisi itu telah merusak diriku yang awalnya telah rusak. Seharusnya dia tidak mengambil peran menghancurkanku. Apa aku seperti ketakutan mereka atasku. Imaji egois penilai diluar indera serba terbatas, sedikit congkak padahal tidak bisa melihat lurusnya pensil dalam gelas berisi air itu. Atau hanya sekedar tahu suara apa dibalik tembok, yang dia pikir suara Omas adalah suara Luna Maya. Atau membedakaan gumpalan pantat dengan gumpalan payudara dengan merabanya. Hanya perasaan saja yang buatnya berbeda. Aku bukan hanya haram oleh pikiran, tapi nampak bodoh dalam kotak ajaib televisi.

Bayangkan saja aku kehilangan ingatanku, dan sedikit rabies. Penyakit mengerikan, hingga tidak seorangpun mau mendekatiku saat aku bersuara. Bahkan sang tuan, orang paling berhak atas diriku. Dia tidak tahu betapa mengerikannya saat aku membayangkan penyakit itu. Ingin saja aku gigit mata kakinya yang keras dengan gigiku yang cukup panjang. Kugigit hingga tulang berbentuk tempurung itu retak dan rambut pirang itu kutarik dengan keempat kakiku hingga rontok semua. Warna pirang kecoklatan yang buat kakiku senantiasa bergetar mendobrak bumi yang aku pijak. Bergetar ingin mencabuti seluruh rambutnya perlahan-lahan dalam jumlah yang banyak. Andai aku tahu rasa sakitnya, semakin ingin aku melakukannya pada si pirang itu. Kini aku menjadi keji dan sadis, namun tetap saja semua itu kalah populer dengan anggapan bahwa aku haram.

Mungkin aku tidak cukup pandai untuk mencari tahu tentang label yang mereka lekatkan padaku. Namun yang pasti ada nilai yang berusaha mendiskreditkan posisiku dimasyarakat sebagai mahluk Tuhan. Nilai itu tertanam indah disanubari mereka hingga enggan untuk mereka berusaha membelaku. Setidaknya menanyakan pada nilai itu, bagaimana dengan nasibku, apakah ada keinginan bagi mereka mengubahnya. Sepanjang usiaku yang kerap dan akan selalu berlabel haram di setiap keistimewaan yang aku munculkan. Padahal awalnya niatku untuk memunculkan keistimewaan itu adalah untuk menutupi label haram. Namun tetap saja dia hadir, menjadi pamongpraja yang siap menggusur paksa jualan keistimewaan yang aku miliki.

Sebagai binatang di kota ini, mereka memeliharaku sebagai satpam rumah mereka. Aku terlihat keji dimata mereka dan dianggap tega menggigit siapapun orang yang tidak aku kenal. Namun mereka tidak pernah berfikir jika aku memiliki perasaan bersalah sama seperti mereka. Jika perasaan kasihanku aku pergunakan, serentak mereka memarahiku dan semua cemooh buruk bersarang padaku. Tapi jika salah satu tuan yang memeliharaku melepaskan sisi kemanusiaannya, maka manusia lain mencemooh perbuatan tersebut. Aku tetap saja tidak pantas untuk itu, untuk lebih berperasaan. Rantai yang senantiasa melingkari leherku, dengan tegas menegaskan kebringasanku. Anak-anak kecil berlarian saat aku melolong memohon pertolongan mereka untuk melepaskannya. Namun yang buat tubuhku terus bertahan hidup karena mereka terus memberikanku makanan yang bergizi. Terus membersihkanku dari kuman dan kutu, serta memberikanku vaksinasi agar terbebas dari penyakit yang mereka takuti juga. Tapi sekali lagi aku ingin mengidap rabies. Aku ingin menggigit tuanku yang memasangkan rantai itu. Aku ingin menggigit semua mahluk sejenisku, bahkan aku ingin menggigit rantai yang telah menjadi temanku selama 12 tahun ini. Terakhir aku ingin menggigit diriku yang haram ini, agar tidak ada lagi mahluk haram sepertiku, karena hanya mereka yang menganggapku haram yang penuh kesucian, semoga.

 


Posted by Menulis Sampai Tua at 23:06:56 | Permalink | No Comments »

Thursday, December 11, 2008

Teknik Menulis Bebas

Muslina


Free Writing

Hujan hari ini membuat jengkel saja. Membuat orang malas saja. Berangkat dari rumah tadi, langit sudah mulai mendung; saya serasa berlari marathon dan lawannya adalah hujan. Sempat terpikir, mungkin hujan lokal saja. Tetapi selama menempuh perjalanan selama 60 menit di angkutan umum, dari Gowa, masuk ke pusat kota Makassar, sampai akhirnya tiba di pinggiran kota kembali; di seputar Tamalanrea. Cuaca tetap sama saja, hujan dan dingin.

Apa ya, yang membuat sebagian orang, dan khususnya saya, malas beraktifitas jika cuaca dingin karena hujan? Jika direnungkan, mungkin hujan seperti obat tidur, yang jika diminum, berefek; maka dengan segera kita akan tertidur. Begitu pula dengan hujan, bila air dari langit sudah mengguyur tanah, ditambah dengan efek cuaca yang dingin karena hujan, suasana akan tenang dan damai yang dengan segera mengantarkan kita pada lelapnya tidur dan mimpi indah. Belum lagi kebiasaan buruk lainnya, cuaca dingin berteman dengan perut lapar. Akan terasa nyaman dengan suguhan makanan yang serba panas; teh panas, mie rebus dan ubi goreng….. wah, sedapnya!

Hujan memang terasa nyaman dinikmati tanpa aktifitas yang berarti. Hujan akan nikmat dengan tidur-tiduran, malas-malasan, makan-makan dan menghabiskan waktu di rumah sambil menonton film kartun ” Alice in Wonderland ”.

Tapi sebenarnya kenikmatan hujan seperti itu hanya wajib untuk hari libur saja. Hari ini, hujan cukup dengan rasa jengkel saja. Bagaimana tidak, berlomba marathon dengan hujan sudah sangat membuat saya lelah dan pegal……………………….

 

Membaca

Duduk diam, mengamati gerakan orang-orang di seputar, letak benda-benda dan suara yang riuh rendah memenuhi ruangan ini. Melihat gerak orang; mampukah aku merasai dan menangkap pesan yang terselubung dalam irama geraknya? Mengamati benda; apakah aku dapat merasakan kebahagiaan dan kesedihan dalam hadirnya? Mendengar suara; mampukah aku menangkap dan merasakan kabar yang berlalu lewat hembusan angin?

Setelah lama terdiam………

Rupanya ada yang menarik, setidaknya untuk kurenungkan lagi. Berbagai pendapat, berbagai macam cerita yang terucap dan terbawa melalui pengalaman orang-orang yang kuamati dalam ruangan ini.

Aku semakin merenung, sedahsyat inikah hidup?

Kita bisa mendengarkan berbagai macam hal tanpa mengalaminya terlebih dahulu. Hanya sekedar memikirkannya atau bahkan ikut mencoba hal-hal baru menarik yang telah dialami terlebih dahulu oleh orang-orang ini.

Yah, aku sangat bersepakat, jika hidup ini indah, masa lalu yang telah dilewati mampu menjadi cermin dan guru masa depan. Cerminan masa yang akan datang akan terasa hadir dalam setiap kesadaran pada yang Tunggal. Menyadari hadir-Nya, sebagai penuntun dan guru yang selalu bersemayan dalam kalbu. Semoga mengantarkan kita pada indahnya masa depan.


Ishak Salim

Sebuah Botol yang Sangat Terkenal

Aku ingat, sewaktu aku masih kelas lima SD. Dengan senangnya kupamerkan botol itu kepada teman-temanku. Ini botol air mineral, ini botol Aqua. Waktu itu sebotol Aqua seharga Rp 500 dan tentu itu adalah sejumlah uang yang cukup besar untuk kurang lebih dua gelas air dalam sebuah masyarakat yang meminum air dengan memasaknya terlebih dahulu.

Botol ini sekarang sudah sangat terkenal, setiap botol pelastik dengan lekukan gelombang air di badannya akan disebut botol Aqua, walaupun dia digunakan untuk wadah selain air mineral bermerek Aqua.

Aku tidak pernah memperhatikan botol itu. Baru kali ini aku mencoba secara detail memperhatikannya dan menceritakan apa yang ada dalam botol itu.

Botol yang aku pegang ini bertuliskan sebuah kata besar “AQUA” dengan model huruf capital yang aku tidak tahu jenisnya. Tapi warna huruf itu adalah biru muda dan biru tua. Dibawah kata itu ada siluet tiga buah gunung atau pegunungan dan sebuah siluet yang membentuk sungai dan juga dengan dua warna biru yang berbeda, tua dan muda. Di bawah siluet gunung dan sungai itu ada tertulis sebuah kalimat “Air minum dalam kemasan”. Sebuah kata yang menjelaskan maksud isi botol ini. Sementara itu, diatas kata Aqua ada kat “DANONE” dan sebuah garis gembung berwarna merah. Kata ini merujuk pada sebuah perusahaan yang menjualnya. Kearah kanan ada kalimat yang sangat kecil yang berbunyi “Diproduksi oleh PT Tirta Investama, Pandaan 67156 Indonesia”, dan sebuah kode dibawahnya “SNI 01-3553-1996” dan “BPOM RI MD 249113001043”. Kode ini sepertinya kode legalisasi dari Negara, karena tertulis BPOM yang berfungsi sebagai pengontrol makanan dan minuman yang beredar di Indonesia. Latar belakang kata itu adalah pegunungan yang lebih nyata dan berwarna hijau dimana tengah gambar pegunungan itu ada garis perak yang berbentuk cekungan dan menyerupai tetes air.

Lebih kekanan lagi ada tulisan “AQUA” dan “DANONE” serta siluen pegunungan namun dengan ukuran yang lebih kecil. Dibawah ada siluen empat orang yang menari atau bernyayi. Mungkin menggambarkan sebuah keluarga bahagia. Dibawah siluen keluarga itu ada lagi seuntai kalimat yakni “Aqua memiliki komitmen  untuk mnyediakan air mineral yang berkualitas untuk konsumsi anda sekeluarga setiap hari”. Ini tentulah sebuah iklan yang berfungsi merayu pembeli yang mendambakan hidup sehat melalui makan/minum yang berkualitas. Lebih kekanan ada kata-kata lagi yag berbunyi “Mata air pandaan, Gunung Arjuno”. Kata ini sepertinya merujuk pada lokasi pada lokasi dimana air itu berasal. Benarkah? Entahlah, siapa yang akan bisa membantu pembeli untuk membuktikannya. Dibawah kata itu ada pula cap dari Majelis Ulama Indonesia yang ditengahnya tertera sebuah kata mumpuni bagi umat Islam, yaitu kata halal, lengkap dengan aksara Arab.

Disamping cap itu ada cap lain yang bertuliskan “Recyeleble” dan “Crushable”. Dari katanya, lembaga ini tentu merujuk pada lembaga yang berfungsi menilai tentang ramah tidaknya sebuah produk terhadap lingkungan. Dibawah dua institusi itu ada kode bergaris-geris yang bisasa terdapat pada produk-produk kemasan. Kode yang tertera adalah 8886008 10 1053 dan kata-kata peringatan waktu penggunaannya dan yang terakhir adalah volume dari botol itu yang bertuliskan 600 ml.

Ada satu kalimat yang terlewat yang berbunyi “Setiap tetesnya berasal dari sumber alam pilihan yang terlindung di pegunungan, dikemas melalui langkah-langkah cermat Aqua untuk memastikan kualitasnya.”

Membaca

Aku coba mengingat-ingat kapan pertama kali aku bias membaca. Padahal sudah banyak kata yang kubaca. Aku bahkan tidak tahu kepada siapa aku harus berterima kasih karena telah membuatku pandai membaca. Satu hal yang kuingat tentang orang yang mengajarkan aku membaca kitab suci dengan aksara arab adalah ibuku. Tapi aku tidak tahu siapa yang mengajarkanku pertama kali aksara latin. Guru ngajiku pada saat itu sangat keras dan tegas cara mendidiknya. Sebuah rotan yang dia hempaskan dip aha atau sisi tempat duduk kami membuatku lari dan memilih ibuku.

Pagi ini Iyyan, anakku berusia tiga tahun sedang bermain-main dengan beberapa huruf yang berserakan. Dia bertanya satu-satu, Ayah, huruf apa ini? Sambil memperlihatkan satu huruf T yang terbalik. Aku sebut saja itu ‘Te’ dan dia seperti tidak memperhtikannya dan mengambil huruf yang lain dan bertanya dengan cara yang sama sampai dia menemukan sebentuk mainan yang lain. Suatu waktu aku menyuapi Iyyan. Setiap suap nasi ada password huruf yang harus diucapkannya dan aku menyusunnya menjadi sebuah kata yang menunjuk binatang atau benda mati. Misalnya suap pertama A dan dia akan bilang “A” lalu aku lanjutkan “Ayam” lalu masuklah sesuap nasi. Lalu “B” dan dia berucap “Be” dan aku melanjutkan “Bebek” dan begitu seterusnya sampai dia bosan dan memilih diam atau beralih ke bentuk permainan yang lain.

Lalu, aku mencoba mengingat-ingat lagi, siapa yang ajrkan aku pertama kali tentang huruf dan kata-kata sampai aku bias membaca. Membaca banyak kata dan kalimat.

Aku tidak bias mengingatnya siapa yang kira-kira yang mengajarkan aku. Tapi, siapa yang mengajarkan aku tentang caraku mengajarkan Iyyan tentang huruf dan kata? Bagaimana aku bisa mengajarkan sesuatu sperti itu. Mungkinkah ayahku? Mungkinkah ibuku? Aku tak jua ingat.

 

            Agung

Limosin vs Putri Malu

Jalan senyap itu membuat mata kakiku tersayat oleh Putrid Malu. Sekitar sungai itu ku lihat menara kembar menatap hawa hangat tubuhku yang mulai kecut matahari. Sepintas ada bocah girang melemparkan sayatan jeruk, dan memintaku memakan seiris dari sayatan itu. aku pun bertanya, “Buah manis itukah yang menjadi karangan bunga kematian para gelandangan kelaparan disisimu?” kulihat mata itu mulai berkaca, kaca itu menjelma menjadi lusinan penderitaan dari perjuangan hidupnya. Dibelakangnya melintas begitu panjang sebuah limosin dengan jendela terbuka, serta terjuliur sebelah tangan melambai-lambaikan kegembiraan. Jauh terus pergi meninggalkan kubus kota dan petak-petak ruko jajanannya. Putri Malu terus menggesek kedua mata kakiku, saat ku lari mengejar limosin panjang nan sombong. Sedikit-demisedikit tanaman pun menghilang dan berhenti mengiris kedua mata kakiku. Dibelakangku kulihat bocah itu semakin jauh, duduk diatas trotoar dengan mengores-goreskan ujung jari telunjuknya ketanah. Kemudian dia berteriak, “persetan dengan semua janjimu!!!”

Lihatlah Limosin itu terhenti, ya, terhenti oleh guncangan suara bocah tak bertuan. Teriakan itu memecahkan kaca-kaca ruko jajanan sepanjang jalan yang dilalui Limosin itu. kemudian turunlan seorang perempuan dengan segenggam putrid malu ditangannya. Tangan yang begitu lembut, namun terdapat cercahan darah segar seperti yang terdapat pada kakiku.

Membaca

a…… b…… c……

a, be..i..bi, abi.

Lihat ibu, aku mengucapkan sesuatu. Mengucapkan huruf itu dari mulut mungilku. Maukah ibu mendengarku? Baiklah akan kuulang lagi.

A, be..i..bi, abi.

Terdengarkah olehmu ayah? Kata asing untuk anak seusiaku? Sekarang aku ingin semua orang mendengarkannya, aku menyebut kata abi.

Ayo siapa lagi mau mendengarku? Paman, bibi, kakek, atau… nenek. Jika Suharto masih hidup, dia pasti akan geram melihat anak Indonesia ini belajar membaca. Membaca sejarah diluar restunya. Sejarah yang dulu hanya dibacakan oleh guruku dari buku-buku yang dituliskan oleh tangan-tangan rezim. Membaca tafsiran sejarah dari banyak sudut pandang. Lihat kuburan Suharto bergerak! Retakannya semakin mengangga  sambil megeluarkan asap hitam. Moncong senapan mulai muncul dari permukaan kuburnya dan siap menembak aku. Aku yang sedang belajar membaca catatan hitam perbuatannya. Aku hanya membaca sedikit dari apa yang selama ini dia impan dalam kubur munir, tukul, marsinah dan masih banyak kakakku disana.

Lihatlah peluru itu meluncur deras merentet kelangit-langit yang diikuti kepulan asap misiu. Seperti kembang api, panas peluru begitu merah terlihat diujung-ujungnya. Sekarang aku takut membaca, aku takut jika peluru itu menjemputku untuk ikut bersama liang lahatnya. Setelah aku berhenti membaca, penulis ceritaku pun berhenti menuliskannya.

Posted by Menulis Sampai Tua at 16:09:43 | Permalink | No Comments »

Teknik Menulis Asik


            Habibi, Ahmad, Cumming dan Ichul

Menanam pohon di pinggir jalan. Untuk menghindari pemanasan global. NASA pun sepakat dengan pemanasan global. Banyak Negara juga berkumpul untuk membicarakan kelangsungan kehidupan semesta ini. Selain membicarakan kelangsungan hidup, kita harus bertanggung jawab. Karena lingkungan yang sejuk adalah warisan untuk cucu-cucu kita. Aku tidak peduli cucu, yang penting kenyang. Mungkin itulah perinsip hidup yang tertanam pada generasi hari ini. Sampai melupakan pesan bijak bahwa, “Kebaikan alam tergantung kebaikan manusia.”

Mungkin tiap detik manusia dihampiri oleh ketakutan. Mungkin saja manusia itu mengalami depresi. Karena terlalu komplit masalah dalam hidup ini. “Hidup memang susah bung…!!!” Itulah kata yang diucapkan pedagang asongan. Tiap hari kehidupan pedagang itu dibayangi ketakutan tak ada pembeli. Terlalu banyaknya dibangun Mall sampai pedagang itu ketakutan. Bukan hanya uang yang mereka pikirkan, tapi juga pengusaha dan Satpol PP. ketakutan akan berakhir jika setiap orang dapat memaknai hidup.

Pontana adalah desa yang begitu berarti dalam hidupku. Udara segarnya kuhirup sejak aku kecil sampai aku dewasa. Keramahan penduduknya merupakan salah satu yang baik. Desa itu mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan. Hidup didesa lebih mengasikkan ketimbang diperkotaan. Keramahan para penghuni dan rasa gotong royong mewarnai setiap aktifitas di tempat kecil itu. Rasa gotong royong yang tumbuh berdasarkan kesadaran individu di desa itu. itulah yang membuat aku tak pernah lupa terhadap desa Pontana.

Saya berjalan sendiri dari pondok menuju Bibliholic. Dalam perjalanan saya tersentak melihat lampu yang redup. Sejak berapa malam ini aku berharap lampu itu diperbaiki oleh petugas PLN agar jalan terang dan pengguna jalan tidak ketakutan melewatinya. Disamping itu dimanakah peran serta pemerintah. Sudahkah mereka lupa akan janjinya pada saat kampanye. Seandainya janji mereka seperti janji pernikahan, pastilah rakyat akan sejahtera. Tapi harus juga menyalahkan sepenuhnya pada pemerintah, apa lagi terus-terusan menagih janji sebab …banyak lampu jalan yang rusak akibat ulah usil manusia. Dalam hal ini dibutuhkan sekali kesadaran itu sendiri untuk tidak merusaknya sebalum kita menuntut hak kita.

            Wandi, Fandi dkk

Cerita ini berawal dari Janges. Seseorang yang melakukan sesuatu. Janges berasal dari keluarga yang sederhana. Dia tinggal dipondokkan dan masih kuliah. Dia baru masuk ini tahun dan mempunyai banyak teman. Suatu hari Janges jatuh cinta kepada seorang wanita yang kebetulan berbeda fakultas dengan dia. Tapi Janges sudah punya isteri. Ya, wajarlah jatuh cinta untuk sementara kepada seseorang. Tapi jangan lupa bahwa dia sudah punya isteri dan anak.

Pada saat ingin naik ke Makassar, orang tua berpesan hati-hati dijalan. Supaya selamat sampai tujuan. Sampai di Makassar jangan lupa shalat dan rajin masuk kampus. Yang pertama mengirimkan kabar (sms, telpon) kenomor telpon rumah atau nomor handphon orang tua. Tapi aku ingin bebas menjalani kehidupan selama di Makassar. Tapi ingat satu hal yaitu kedua orang tua, keluarga, bangsa. Agar bisa mebalas segala jerih payah selama ini.

Ketika saya pergi kekampus pukul 10.00, menunggu lama, dia belum mucul. Kerena ada suatu hal yang penting diselesaikannya terlebih dahulu. Mungkin dia terlalu lama berdandan di rumahnya. Karena bunyi azan shalat zuhur sudah berbunyi, saya sms saja dia. Dia membalas sms bahwa sudah menuju ke kampus. Lalu saya sms lagi menyuruhnya cepat-cepat kekampus karena ada suatu hal yang ingin diperbincangkan, tentang akademik yang kebetulan ada masalah. Kami telah terkungkung rutinitas tiap hari, ke kampus atau kalian yang ke kantor. Apa yang kalian lakukan hari terakhir ini? Apa kita semua sama?  Tentu tidak. Karena kalau kita semua sama, siapa yang akan mengontrol semua itu.

            Nardi, Reno, Ais dan Agung

Hari ini cukup melelahkan. Lingkar aktivitas yang padat dari kamar tidur hingga kantin kampus. Bayangkan saja tidak ada uang, terus kemarin sore untuk terakhir kalinya aku merasakan kenyang. Walaupun itu tidaklah masuk akal, tapi itulah keadaanku sekarang. Entah esok hidupku bagaimana lagi kalau terus begini. Teringat dengan motto seorang teman “Hidup adalah cobaan.” Tapi aku juga percaya kalau cobaan ini akan menjadi kenangan yang manis. Dan dikemudian hari akan sangat berarti. Tapi aku pikir ini bukan sinetron yang selalu berakhir bahagia, karena segala kemungkinan masih bisa terjadi, termasuk hidupku yang selalu berada dalam cobaan yang menyakitkan.

Kamar ini hanya berukuran 2×3 merter. Tidaklah cukup untuk kami berlima. Padahal malam sudah terlampau larut untuk aku pulang ke rumah. Ya, akhirnya kami paksakan saja bertumpuk seperti ikan Maero tepung dipenggorengan mace Mia. Bayangkan keadaan kamar dimana hanya aku yang tidak merokok dan yang lainnya merokok secara bersamaan. Keadaan ini terasa sangat menyiksa, tapi saya yakin dikemudian hari aku pasti merindukan saat-saat seperti ini. Bermalam dengan teman sekampus beramai-ramai di kamar yang pengap. Seluruh lubang cahaya kututup dengan pembersih telinga. Dan juga asap rokok yang membuatku seperti ikut menghisap dan merasakan kenikmatan asap rokok bagi mereka.

Mungkin saya tidak terbiasa dengan sesuatu yang baru. Buktinya hari ini, ketika aku dipertemukan dengan orang yang memiliki kebiasaan aneh. Menyentuh langit-langit mulutnya dengan bolpoin warna merah jambu. Kenapa harus bopoin warna merah jambu? Kenapa bukan bolpoin hijau atau warna yang lain? hal itu terlihat aneh jika terus aku bayangkan. Bagaimana tidak, aku dari kecil tidak pernah senang dengan warna merah jambu. Coba kulihat lagi, orang itu melototi semua nyamuk yang mendekatinya. Aku semakin bingung hubungan nyamuk dengan bolpoin itu? sampai saat aku sadar, aku hanya berhayal.

Hari ini hari AIDS sedunia, kata Uli HIV menular melalui senyum. Lanjutnya, senyum kemudian mengeluarkan darah, terus mengenai orang. Tidak masuk akal memang, tetapi itulah yang akan terjadi ditahun 2200. Aku juga heran dengan pendapat temanku itu, tapi bisa jadi itu akan jadi kenyataan. Jika benar demikian, apakah semua manusia akan berhenti tersenyum? Atau apakah pada saat itu orang dilarang tersenyum seperti kata orang-orang “Tersenyumlah sebelum senyum itu dilarang!” mungkin saat itu senyum seseorang merupakan barang yang langka. Aku jadi pesimis melihat dunia, kalau pada akhirnya senyum hanya akan jadi bencana bagi yang lainnya. Tidak terbayangkan jika senyumku harus steril dan menggunakan kondom.

Posted by Menulis Sampai Tua at 15:58:11 | Permalink | No Comments »

Tuesday, December 9, 2008

Sebuah Cerita Pendek

 

            Agung Dan Fachrul

 

Teater yang Menakutkan

Dan untuk semua identitas yang lahir dari tafsiran dunia, membawaku pada sebuah pulau yang tidak diharapkan para pelaut, bisa terdampar disana. Kondisi yang membawaku pada keterjebakan idealisme, ya, idealisme yang tidak kuharapkan. Bahkan sampai hari ini, tidak mampu aku mengenal bagian yang kucintai. Bagaimana mungkin saat itu aku mengenalnya, bahkan tanpa pertimbangan menyayangginya?

Sabtu itu aku terlalu sibuk untuk melihatnya, saat malaikat bertanya padaku kapan pertama aku melihatnya, aku masih terlalu sibuk dengan hirupan nafasku, bahkan untuk menjawab pertanyaan itu, aku masih sibuk. Bukan hanya kesibukkan yang melarangku meliriknya, nyatanya aku memang tidak tertarik untuk memperhatikannya.

Suhu udara dalam kendaraan mulai naik, pendingin ruangan tidak berfungsi, ditambah lagi ruang gerak yang sempit, membawaku pada sebuah alasan yang kelak akan menjadi kenangan bahagia jika kami membicarakannya. Sebuah tablet penenang perut yang meminimalkan rasa mual dan pusing, kutelan bersama sebotol air dingin. Aku tahu perjalanan akan begitu lama, sebelumnya aku mencontek dalam sebuah peta yang tertempel didinding kamar seorang teman.

Tiba-tiba mataku terpejam setelah angin melintas dan menghantam wajah ku yang sementara kubalut dengan sapu tangan pemberian ibuku, kemudian itu aku merasa ada yang mengikutiku tapi tidak tau siapa..? kebisingan disekeliling ku  terus terbesit seolah-olah ada yang ingin disampaikan, namun karena begitu kencangnya putaran ban karet mobil menggilas aspal panas, hilang begitu saja. Dikiri jendela tepat didepan ku sipenghibur hati tetap bisu dan merasa  acuh tak peduli dengan sekitarnya.

Langkah kakiku terhenti sejenak setelah aku mengingat ternyata ada yang terlupa dalam perjalananku, sadar akan hal ini membuat diriku sejenak merinding ketakutan yang belum pernah aku merasakanya. Aku lupa membawa bayang-bayang kenanganku, kenangan yang gelap, yang selama tiga bulan ini terus memberikan alasan untuk tidak bermimpi saat malam tiba. Tapi aku memang meninggalkannya dalam sebuah kantong baju berwarna hijau muda, telah kuselipkan diantara kertas mantra. Aku sengaja melupakannya, aku ingin kebahagiaan hari ini, sedikit saja. Sang penghibur hati yang bisu tadi, melihat wajah ku yang begitu pucat seperti aku baru bertemu iblis yang menanyakan keberadaanku.

Orang-orang terlalu sibuk dengan pikirannya, aku selalu bertanya pada mereka, kenapa tidak pikirkan aku saja. Aku ada diantara mereka, tapi terasa jauh dari ini semua. “pak sopir, antarkan saja aku keliling dunia untuk cari semua yang mau pikirkan aku” berkata dalam hati ini. Hati? Yang mana “hati” itu, apa benar dia ada, atau hanya itu konsep orang-orang yang putus asa mencari identitas diri?

 Dua buah becak kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju pantai yang dipaksakan indah dengan keramaian yang mewah, terlalu mewah untuk kehadiran sang pengemis. Disana aku melihat dua orang yang umurnya sekitar 40 tahun,  orang tua  itu terlihat dalam kebingungan sambil memencet kamera digital yang digenggamannya, mataku selalu melotot mengikuti jejak kakinya melangkah kemanapun. Hembusan gelombang ombak yang sesekali menuju kedaratan membuat orang tua itu ketawa terbahak- bahak sambil mengambil gambar ombak, hanya ombak yang berada di pinggiran kedangkalan. Sekarang aku diintrogasi sang penghibur, seperti dongeng agamawan, aku berdiskusi dengan malaikat yang begitu lembut dengan cambuk api. Cambuk api yang siap menghantam penganggu diskusi kami, bukan untuk menghukum ketidaktahuanku.

Pemandangan yang begitu menajubkan yang membuat pikiran ku bertanya-tanya “siapakah yang memiliki semua ini?” Jawaban pembenaran klasik pasti akan menjawab Tuhan, aku tahu itu, tapi lebih tepatnya “tuhan-tuhan kecil” yang merampas rumah-rumah masyarakat, untuk mengindahkan pemandangan kota. Sebuah lukisan yang tidak diharapkan disingkirkan. Bagiku rumah mereka sangat indah, dinding kayu lapuk, seng karatan, anak-anak yang dikuruskan badannya oleh saudara-saudaranya yang serakah. Semuannya indah, semuanya diciptakan dengan keindahan. Tapi semuanya dihancurkan oleh keindahan yang dikonstruk secara massal dan fana, tanpa mampu melihat rumah kumuh dari segi lain. Setidaknya ada tempat bagi mereka yang kaya untuk menghamburkan harta mereka. Tempat prostitusi itu semakin indah dengan lampu warna warni, padahal dulu menjadi tetangga rumah kumuh itu, hanya saja rumah kumuh nelayan tidak seberuntung bangunan kenikmatan nafsu itu, jelas rumah kumuh tidak menjanjikan apa-apa selain pemandangan yang mampu memaksa orang-orang menangis, tapi tidak semua. Air yang terhempas begitu luas, kemudian dikelilingi oleh pula-pulau kecil, kapal-kapal tetap diam tak bergerak seakan kehabisan solar, dan penataan taman yang rapi serta gambar kapal yang bertulis pantai losari, tetapi semuanya itu dikotori oleh etika manusia yang tidak memahami dan memaknai keindahan lagi. Lagi-lagi sang penghibur hati asik dengan pencariannya, pencarian atas jiwa yang tercecer sejak lama.

Aku belum juga tertarik memperhatikan lebih dalam kedua orang itu, sementara temanku sedang asik dengan kamera dan objek manusia tua tersebut. Sampai akhirnya aku beranikan diri menghampiri dua manusia asing diantara banyaknya manusia-manusia asing lainnya. “Pantai ini tidak terlalu indah untuk objek seindah bapak.”  Berusaha membuka perkenalanku dengan alien itu, “Bibir anda yang terlalu indah untuk mengomentari kami berdua yang tersesat dipulau asing, yang kami baru pertama kali menginjakkan kaki disini.” Aku hanya tersenyum sambil meneruskan percakapanku, sementara dalam jiwaku yang lain asik menanyakan, apa yang sedang dia pikirkan tentangku. Perempuan disebelahnya yang seumuran dengan dia terus diam seperti laut yang tenang dihadapanya. Ya, laut itu begitu dalam. Gelisah memaksaku untuk mengorek tentangnya, tapi apa yang akan kukatakan untuk memulai pembicaraan? Apa aku tanyakan saja dengan bapak yang terus mengoceh ini, atau kantor polisi bisa memberikan sedikit info tentang dia. “Apa istri bapak terbiasa dengan lamunan sorenya?”, ah, apa aku telah benar mengatakannya. “Dia teman saya di rumah sakit, dia juga ahli di bidang bakteri bersama saya, kan saya tidak bisa mengencani perempuan sulawesi kalau saya bawa anak dan isteri saya.”  Sambil tersenyum dia telah membuatku sedikit tenang dengan lelucon klasik itu. Penghibur hati semakin jauh memunggut serpihan jiwa itu, dia hampir berhasil mendapatkannya dari sekop-sekop yang telah kupinjamkan.

“Engkau begitu muda untuk bisa berfikir seperti saya, mari kesini, mendekatlah.” Seperti ayah yang menarik anaknya dengan uang jajan, di hipnotis diriku untuk mendekat. Tidak, ini seperti sang guru persilatan yang akan memberi ajiannya pada seorang murid sebelum dia akan mati. Dengan bahasa daerah padang, kemudian mengatakan “pegang kata-kata ini, terjepit tapi diatas, terpenjara tapi diluar, belum terlihat tapi sudah tampak.” Sampai aku menulis hal ini, aku tidak mampu menginggat bahasa yang dia sebutkan saat itu, mungkin karena aku bukan orang padang, atau kupingku tidak begitu akrab dengan bahasanya. Sampai dia sendiri yang menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. “kamu mahasiswa politik kan? tidak perlu saya jelaskan kalimat itu, akalmu yang akan mencari semua yang saya sampaikan. Tuhan pun memberi kebebasan pada manusia untuk menafsirkan semuanya dengan akalmu, bukan menerima dengan kepasrahan seperti menerima sebuah buku panduan hidup yang ditafsirkan oleh satu orang untuk seluruh umat.”  

Kedua teman perempuanku telah menjelma menjadi De Saussure, dengan mengemasi barang bawaannya aku mengerti waktu telah habis dan kami harus meneruskan perjalanan. Selanjutnya gedung kesenian, gedung mewah sedikit kuno, yang sedikit sekali orang mau mengaksesnya. Terhampar sebuah baliho, sebuah pementasan hari ini yang menceritakan perjuangan keluarga miskin mencari subsidi pemerintah untuk hidupnya. Setelah lama menyaksikan pementasan tersebut, sebuah benda aneh tak terlihat menghantam kesadaranku. Orang-orang sedang sakit atau gila? ya orang-orang dalam gedung ini, yang sedang mengeluarkan air matanya dengan tontonan ini. Aku banyak melihat adegan ini diluar sana, itu nyata, tidak didramatisir atau seolah-olah sedih tapi mereka tidak mengeluarkan air mata itu. Penggusuran itu sering terjadi, tapi tidak ada air mata yang mengiring perjuangan untuk melawannya. Tapi ketika dipentaskan, dan mereka tau itu hanya sandiwara, tidak nyata, yang mereka tahu setelah pementasan para pemain akan tersenyum, bahkan terbahak-bahak telah sukses memerankan kemiskinan, mereka terisak-isak menanggisinya. “Hei sang penghibur hati! Apa kau menangis untuk acara ini, atau kau menangisi dirimu sendiri?”

Ini gila, semua telah gila! Kemiskinan bisa menyentuh hati mereka saat semua itu didramatisir dalam pementasan, sementara kemiskinan yang nyata diluar sana, mereka menafikkan hati yang begitu lembut, sama halnya ketika  aku menanyakan keberadaan konsep hati itu. Jika mereka sakit, aku, aku yang sadar akan hal itu, aku ini apa? Aku lebih sakit dari mereka!!! lebih gila dari mereka!!! Tahu mereka sakit, tapi terus asik dengan fikiranku dalam sebuah gedung orang gila. Dan engkau yang sempat membaca cerita ini, engkau apa? Engkau masih diam menertawakan perjuangan orang-orang miskin, yang ketika kau menyaksikannya dalam pementasan teater, aku yakin kau akan tersentuh, tapi hanya tersentuh, kemudian terlarut dalam fikiranmu dan mengatakan “ini sebuah pementasan yang sarat dengan pesan moral”, hah, gila!!!

“Cerpen ini depersembahkan untuk Ria yang sedang belajar jadi miskin

dan orang-orang yang mengeluarkan air matanya dengan tontonan kemiskinan”

 

 

Posted by Menulis Sampai Tua at 07:20:16 | Permalink | Comments (1) »

Saturday, December 6, 2008

Menuliskan Kota yang Bernama Seperti



Seperti Kota, Kota Seperti

            Ichul

Seperti sebuah titik kecil.

Jika melihatnya dari bulan ia tak nampak memanjang sebagaimana Tembok Besar Cina. Ketika mata kita semakin mendekat pada orbit bumi seperti bagai sebuah pirigan pesawat alien terdampar ditengah biru laut. Piringan dengan sayap dua gunung yang berada disisi barat dan timur kota. Dari atas, pandangan yang makin merapat kita tak akan sulit menemukan titik pusat dari pulau bulat menyilaukan itu, sebuah pohon menjulang perkasa, rimbun, besar, tak normal. Pohon yang menghidupi seperti.

 

Seperti dibekap malam,

waktu menunjuk pada pukul 12.00 malam Jumat kliwon, menit yang menandai peralihan hari. Masehi telah masuk di tanggal 12, bulan12, tahun 2012. Sebuah tautan angka dua belas yang aneh dan semoga saja bukan isyarat aneh!!! Malam di seperti sedikit terusik dijam itu, sebuah pengumuman terdengar,tepatnya imbaun atau kasarnya  perintah.  Titah dewan kota bagi warga untuk berkumpul dipusat kota tepat pukul 06 lewat 06 menit esok pagi.

 

Seperti, kota yang mengerti.

Suara pengumuman tak harus menyeruak ribut, bising oleh pengeras suara sampai mengganggu ketenangan warga diwaktu istirahat atau suara pengumuman yang kadang tiba-tiba hadir mendominasi tanpa ijin ditengah-tengah banyak orang yang lagi asik bercengkrama. Semua saluran informasi,media komunikasi, telah terhubung satu sama lain,dari rumah kerumah dilengkapi perangkat audio-visual dengan segala fitur canggih, waktu dan ruang secara nyata dilipat tanpa . Pusat informasi kota lah yang menjadi corong, mengurusi dan mengontrol segalanya dengan baik. Sensornya tak akan membiarkan gosip-gosip, gagasan aneh, prilaku nyeleneh dan penyebab distabilitas lain berkelana seenaknya didalam kota, sejak lama tertib telah jadi pembiasaan, teratur dan disiplin menjadi kewajiban tata laku.

 

Sepertidibungkus pakem keseragaman.

Rumah-rumah warga berbaris melingkar rapi menghadap pohon ditengah kota sebagai kiblat. Rumah seragam dengan bentuk, ukuran, warna dan isi nyaris sama, kecuali satu ruang yang dibiarkan bebas dikreasi tiap penghuni sebagai ruang kerja. Kita akan mendapati keistimewaan yang berbeda ditiap rumah pada jenis ruangan ini, isinya tentu berupa perabot yang disesuaikan dengan jenis profesi atau pekerjaan tiap penghuni rumah. Segala aktivitas kerja  digerakkan diruang ini oleh tiap warga dirumah masing-masing. Kaum hiper-profesional tepatnya sebutan bagi seluruh pekerja dikota seperti. Hiper dalam arti kontak kerja yang berlangsung dalam kota dilakukan tanpa perlu perjumpaan fisik. Sang dokter mengobati pasien, dewan kota mengadakan rapat, pengacara bersama hakim bersidang, dan kerja lainnya telah terhubungan secara tak terbatas oleh kecanggihan zaman. Pekerja keras dengan otot seakan tak berhak lagi hidup diseperti karna manusia  seperti hidup dari jeri payah kemahiran berpikir dan mencipta. Mencipta benda-benda yang memanjakan hidup. Memperjual belikan isi kepala kepada dunia luar adalah komoditas utama kota sambil menikmatinya produk materialnya sendiri. Tak heran, ketika rumah rumah hanya diiisi oleh benda-benda yang hanya punya dua identitas, fungsional kalau tidak estetik. Atap rumah seluruhnya tertutupi panangkap energi surya dengan kapasitas extra sebagai sumber pasokan energi listrik kota, berbagai furniture multi fungsi dengan segala tetek bengeknya tak luput menghias seisi ruangan, keramik serba lux melapisi lantai dan dinding, pastinya tak terlupa pendingin sekaligus penghangat ruangan untuk mengatasi tiap perubahan cuaca. Maksimalisasi fungsi alat canggih  hanya melekat dan digunakan dirumah sebab kota seperti, tak mengenal kantor, ruko, pusat perbelanjaan, sekolah, rumah ibadah, penjara, rumah sakit, jalan raya, gang kecil dan bangunan lainnya. Rumah cukup untuk melakukan seluruhnya.

 

Seperti nyaris tak menyisakan ruang terbuka.

Kecuali tanah lapang, dua gunung dan bibir pantai diutara dan selatan kota, atap rumah perak menyilaukan menutupi semua daratan. Hal luar biasa lain terlihat nyata dengan hanya satu moda transportasi, kereta bawah tanah dapat diakses langsung dari tiap rumah, tanpa macet tanpa emisi, tiap manusia dan barang kebutuhan segera akan berpindah tempat berlalu lalang tanpa kata terlambat. Kereta pemanja itu berkeliling dari rumah kerumah. pelabuhan dipantai dan ruang publik kota berupa tanah lapang ditumbuhi pohon itu adalah dua tempat juga yang dikenalnya. peradaban bin ajaib penuh ketakjuban pantas digelari bagi kota seperti.

 

Seperti telah menyambut pagi, seluruh warga kota telah berkumpul.

Semua tampak biasa saja. Tanah lapang berukuran dua belas kali lipat lapangan futsal dengan pohon besar ditengahnya kembali ramai, tiba-tiba ketegangan dan kebekuan hinggap ditiap wajah orang dewasa, tak luput pohon besar beserta dua belas cabang dan dua belas dari ranting ditiap cabang seolah menyatu dengan ketegangan itu. Imbauan semalam untuk berkumpul ternyata menjadi awal berita perubahan, perubahan yang masih dihantui kegamangan dibalut sedikit ketakutan. Kata perubahan sebenarnya tak asing dan seharusnya tak mengagetkan semua orang karena manusia seperti adalah para agen perubahan yang sejati, hasil isi kepala merekalah yang selama ini menggerakkan tiap perubahan seluruh pelosok jagad bumi. Pengumuman oleh dewan kota yang diwakili tetuahnya sejenak tak mengusik kesenangan para anak kecil yang berlarian, bermain, berbagi kesenangan dengan kawan seumurannya ditanah lapang itu.

 

 Seperti hari ini tak biasa.

Bagaimanapun tak ada yang menyenangkan ketika meluncur rangkaian kata dari tetuah, “tepat pada jam 12.00 siang nanti pohon itu harus dilenyapkan, mohon maaf keputusan ini telah final, sebuah kalimat penutup pidato yang dipenuhi suara keraguan .” Pohon yang menjadi kebanggaan sekaligus penjaga kota akan tergantikan oleh menara pencakar langit. Menara yang bisa menjawab kerinduan warga akan pemandangan terbitnya mentari pagi dan senja sore hari. Menara yang nantinya akan mengatasi gunung yang selama ini menghalangi kota dari mentari dan senja. Menara baru masa depan atau kiamat bagi kota. Mitos pohon itu rupanya tertanam rapi dikepala tiap orang, jika pohon itu ditebang akan mendatangkan bencana besar bagi seperti. Ruang dan waktu yang telah terbiasa dilipat oleh kecanggihan teknologi rupanya tak mampu melipat jam dua belas nanti, tak bisa menemukan jawab gerangan apa yang akan terjadi setelah pohon itu tiada, pada detik itu kata keterbatasan rupanya menjadi kosakata baru bagi semua manusia seperti. Tanpa perlawanan tanpa keributan semua harus terjadi, ketaatan adalah kata pertama dikamus kota, begitulah adanya. Kuasa sepenuhnya ditangan dua belas manusia seperti sebagai dewan kota.

 

Seperti telah hadir dijam 12.00.

Hari jumat tanpa terik tanggal 12, bulan12, tahun 2012. pohon takdir itu, tanpa butuh waktu lama telah tumbang, sekali lagi teknologi canggih telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Sepersekian detik setelahnya kecemasan tak terlihat, segalanya ikut lenyap bersama sang takdir…ketiba-tibaan.

 

Seperti hilang tanpa ada yang mengerti…        

Seperti

    Ais

SEPERTI…seperti inilah dia dahulu! Sebuah kota yang penuh dengan kedamaian, selalu! Kalian tahu? Di pemukiman,ketika pagi hari, betapa riangnya anak-anak bermain. Berputar-putar, berlompat-lompatan, berlari-lari sambil berkejaran. Terkadang disaat bermain, ada yang menangis dan hanya sebentar saja kemudian kembali bermain lagi. Penuh keceriaan dan kebahagiaan di wajah mereka. Serasa berharap waktu tidak berubah sehingga membuat mereka berhenti bermain. Di pasar, keramaian pun tak terelakkan! Para pedagang selalu memberikan yang terbaik bagi para pembeli. Kualitas dagangan yang baik membuat para pembeli akan mendapatkan kepuasaan. Ditambah dengan harga yang murah, membuat pembeli rela dengan sabar mengantri. Yah! Dengan sabar menunggu tanpa berebut satu sama lain.

Hangatnya keramahan dan senyuman mereka,seakan-akan membuat bau amis dari daging dan ikan yang dijual serta bau keringat tak pernah tercium oleh mereka. Tak kalah damainya, sebuah taman yang berada di tengah kota! Setiap sore, merupakan tempat istirahat dari seharian bekerja. Tak jarang, juga dijadikan tempat untuk pasangan kekasih bermesraan. Berbagai macam bentuk, warna, dan juga wangi bunga membuat mereka enggan untuk beranjak dari kursi taman. Ditambah sekelompok merpati putih berlomba mematuk jagung yang dibuangkan oleh mereka di taman. Menghambur terbang dan kembali lagi, menambah kemesraan mereka yang memadu kasih.

Malam harinya, kota tetap terang. Lampu-lampu taman, rumah-rumah, dan jalanan di sepanjang kota diterangi oleh cahaya lampu. Tiap sudut kota tak ada yang luput dari cahaya lampu-lampu itu. Seluruh kota menjadi terang. Setiap hari, setiap malam kehidupan di kota ”SEPERTI” ini berjalan dengan damai. Berbulan, sampai bertahun, dan sampai pada satu waktu dimana kota ini mendapat musibah.

Penyakit yang disebabkan oleh virus menewaskan warga kota. Masih ingatkah kalian dengan sekelompok merpati putih yang ada di taman? Ya! Merpati-merpati yang ternyata membawa virus itu. Virus flu burung yang mematikan. Awalnya warga mengira bukan virus yang menyebabkan kematian warga. Mereka belum pernah mendapatkan penyakit seperti ini. Sampai pada suatu hari, kota ini mendatangkan dokter ahli dari kota seberang. Setelah diteliti, sang dokterpun akhirnya mendapatkan penyebabnya. Butuh waktu sebulan untuk membuat obatnya.

Warga semakin panik, karena virus itu menyebar dengan cepat dan menewaskan semakin banyak warga. Sebulan berlalu, seperempat warga kota, sekitar 500 orang tewas akibat virus itu. Parahnya obat yang dihasilkan sangatlah sedikit. Hanya dapat menyembuhkan sekitar 5 orang saja. Kepanikan warga tak dapat ditahan lagi. Kekacauan mulai terjadi di kota ini. Warga saling berebutan untuk mendapatkan obat itu. Demi bertahan untuk tetap hidup,mereka kemudian saling membunuh satu sama lain. Di sepanjang jalan, warga berkerumun saling membunuh. Di satu sisi warga tewas karena terjangkit virus, sedangkan di sisi yang lain warga pun tewas karena saling membunuh. Sampai pada akhirnya, tidak ada satupun dari mereka yang hidup.

SEPERTI… seperti inilah dia akhirnya! Dahulu hidup dengan damai, kemudian berakhir dengan kekacauan. Saling membunuh satu sama lain sampai tak ada lagi makhluk hidup yang tersisa. Kita tidak akan pernah lagi melihat sekelompok anak yang bermain di pagi hari dengan penuh keceriaan dan tawa dari wajah mereka. Tak ada lagi keramahan dan senyuman dari para pmbeli dan pedagang di pasar. Tak ada lagi kemesraan dari pasangan kekasih, wangi bunga, serta sekelompok merpati putih ditaman kota ketika sore hari. Dan tak ada lagi cahaya lampu kota di malam hari. Kini kota itu menjadi kenangan. Adakah kalian menginginkan kota ”SEPERTI” ini? Kota yang penuh dengan kedamaian. Yah! aku, menginginkan kota ”SEPERTI” ini…SEPERTI yang dulu.


Seperti, Kota di Bawah Kolong Meja

    Agung

Malam ini tidak begitu gelap. Cahaya kecil memberi banyak kuasa mata untuk menjangkau tiap sudut ruang rumah nenekku. Dinding badan istananya tebuat dari kayu Meranti berumur puluhan tahun. Hawa hangat memaksa pori-pori telapak jari merasa retakan serat-serat kayu. Begitu kasar dan hangat. Jari-jari terus merayap dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari dinding gudang menuju tangkai pintu, kemudian menggenggam tangan tangga menuju gudang bawah tanah milik nenek Lanji.

Sejak aku berumur 6 tahun, nenek Lanji mengambilku dari orang tuaku untuk diasuh. Nenek Lanji berumur 89 tahun bulan November ini. Sejak ditinggalkan suaminya  enam belas tahun yang lalu, nenek Lanji hidup sendiri di sebuah kawasan hutan Bakau, di pesisir utara Pulau Bunyu. Pulau Bunyu hanya sebuah pulau kecil disebelah utara pulau besar Borneo. Cukup dengan mengendarai sepeda motor , dalam waktu 15 menit wilayah pulau itu bisa aku datangi semua. Di pulau inilah Nenek Lanji membangun sebuah rumah. Dengan dua buah kamar tidur, sebuah ruang utama di samping kiri kamar tidur, serta dapur yan terhimpit oleh gudang dan kamar mandi di belakangnya. Itu adalah sisi rumah Nenek Lanji yang aku ketahui. Sampai aku mengalami de javu malam itu dan menemukan gudang nenek Lanji  yang lain tepat di bawah gudang.

Aku tahu nenek Lanji sakit demam. Dia enggan bangkit dari tempat tidurnya yang teranyam dari rotan. Melihat keadaan itu, aku memaksa diriku untuk beranjak kepintu disisi lantai gudang nenek Lanji. Pintunya hanya cukup untuk tubuhku sendiri, itupun aku berusaha mengerutkannya seperti peluru meriam yang dipaksa masuk kedalam lubang dengan tongkat penekan. Didalam ruangan itu, semuanya biasa, tidak ada yang aneh. Disisi kanan dan kiri tangga masuk rak-rak yang tertempel didinding. Berhimpit buku-buku yang semua sampulnya berwarna merah. Tepat dihadapan pintu masuk, sebuah meja tua dengan tiga kaki yang menopang tubuh persegi panjangnya, menarik seluruh perhatianku. Aku pernah ketempat ini, dalam hati aku bergumam. Pikiranku berlari kemanapun ia mau mendapatkan kaingintahuannya. Keingintahuan tentang apa nama peristiwa yang seolah pernah dialami dalam mimpi. De javu, sambil menganggukkan kepala, aku menjawab sendiri pertanaanku. Dikolong meja tua itu, tertata rapi dilantai kelopak-kelopak bunga mawar merah tertempel membentuk angka 89.

Saat pertama akil balik, nenek Lanji mendatangiku pagi itu. Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah bertemu perempuan dalam mimpimu semalam?” aku hanya terdiam sambil menutupi selangkanganku dengan bantal karena malu. Celanaku basah dan kesat saat itu. Cairan yang keluar dari  kelaminku tidak berbau pesing dan warnanya beda. Ini bukan sesuatu yang sering kualami.

Nenek Lanji juga sering bercerita tentang sebuah kota yang ada dalam dasar lautan lumpur Bakau. Namun tidak satupun cerita yang menarik buatku. Saat nenek Lanji bercerita, aku hanya memikirkan bagaimana pekerjaanku esok hari. Menangkap kepiting bakau sebanyak-banyaknya untuk dijual dipasar. Hanya satu kata yang aku ingat dari cerita itu, seperti. Kemudian aku akan tertidur tanpa memperdulikan celotehan nenek Lanji yang terus asik dengan ceritanya.

Saat kusujudkan tubuhku untuk bisa melihat jelas angka 89 dibawah kolong meja itu, tiba-tiba dinding gudang serentak menghimpitku hingga menjadi lempengan besi tipis. Sangat tipis, hingga sisi sampingnya terlihat seperti sebuah garis lurus. Namun kemudian aku kembali tersadar, kembali berada digudang nenek Lanji dari perjalanan yang melelahkan. Aku kenal dengan udara ini, suasana ini. Begitu sejuk, membuatku ingin menjadi batu besar agar tidak terangkat dan tetap berada dititik itu. Aku bayangkan, aku mendapatkan hasil tangkapan kepiting yang sangat banyak. Keringat yang membungkus parit-parit tubuh akibat teriknya siang. Kemudian aku duduk dibawah pohon bakau lebat dengan membuka bujuku yang basah. Anginpun menabrakkan cinta kasihnya tepat ditubuh lembab ini dengan kesejukkannya. Begitu nikmat terasa, hingga akhirnya keringatku terbang bersama angin pantai yang mengalir deras.

Langit saat itu tidak berwarna biru, karena langit ditumbuhi kapas-kapas warna putih. Apa langit sedang mendung? Tapi matahari bersinar cerah seperti tidak satupun awan yang berusaha menghalangi sinarnya. Matahari itu tidak panas, dia begitu sejuk hingga keringat tubuhku malu untuk bersentuhan dengan cahayanya. Matakupun enggan berkatup karena kilau cahaya indahnya.

Saat mulai melangkah, akupun tersadar bahwa tanah tempat kakiku melangkah adalah padang lumpur coklat. Sebagian permukaan telapak kaki bersembunyi diantara lunak padang lumpur. Aneh aku rasakan. Langkahku tidak berat. Tidak seperti berjalan diatas lautan lumpur. Aku seperti berada diatas motor grant prix yang melesat kencang diatas sircuit. Tidak perduli lagi untuk mengurangi kecepatan saat bertemu tikungan. Aku adalah pemenang garnt prix musim ini.

Musim panas tahun lalu, nenek Lanji mengajakku menanam bibit pohon bakau bersama. Tepat disudut kiri belakang rumah. Sambil menanam, nenek bertanya, “Cu, kamu tahu kenapa akar bakau keras ini saling melengkapi dengan lumpur yang lunak?” aku enggan menjawabnya. Aku tetap saja melanjutkan aktivitasku. Menusuk-nusukkan lumpur dengan sebatang kayu. Sekeras apapun aku menghantamkan kayu kelumpur, tetap saja perlahan lubang dilumpur menutup, seakan tidak pernah ada yang menyentuhnya. Aku tahu, nenek Lanji akan menjawab pertanyaannya sendiri. Nenek Lanji tidak akan mau berlama-lama menungguku untuk menjawabnya, karena dia tahu aku tidak akan bereaksi dengan pertanyan itu. Kemudian melanjutkan, “Kelembutan lumpur ini kelak akan berbuah keseimbangan. Batang kayu bakau yang kokoh dengan helaian lembut daun hijau”. Sejenak kulihat nenek Lanji sedang menatap tajam mataku, dan melanjutkan lagi, “Didasar lumpur itu ada sebuah kota. Kelak kamu akan tahu 89 orang manusia luar biasa yang pernah hidup dikota itu”. Akupun tersenyum kecut padanya dan bergegas melanjutkan pekerjaanku. Bagiku didasar lumpur hanya ada binatang-binatang aneh yan menjijikan. Sangat menjijikan seperti janin alien penuh lendir yang selalu aku bayangkan setelah menontonnya di televisi.

Lima kilometer berjalan, kudapatkan sebuah hutan bakau. Sulaman ranting bakau itu membentuk pagar dengan pola kepangan. Pasti yang menyulamnya orang Afrika. Teringat lagi tontonanku semalam, seorang atlet lari asal Hutu yang mengepangkan rambutnya sangat rapi. Diantara sulaman terdapat sebuah celah masuk kedalam hutan bakau. Ketika masuk kedalamnya, aku tercengang melihat sebuah pemukiman manusia didalamnya. Tidak banyak orang didalamnya, tapi aku masih juga bodoh untuk membedakan mereka. Tempat tinggal mereka sebagian besar terbuat dari bagian pohon bakau. Atap rumah dari daun bakau, dindingnya nampak rajutan ranting bakau, serta pondasi kokoh akar bakau. Jalan didalam tempat itu nampak seperti rel kereta api, namun besi-besi itu adalah akar pohon bakau yang muncul dari permukaan lumpur membentuk garis-garis jalan rel. seperti pemukiman manusia pada umumnya, semua bangunan sangat fungsional. Ada tempat tinggal, pusat aktivitas, tempat ibadah dan lain-lain. Semuanya dari pohon bakau yang tumbuh alami. Semua orang didalamnya terus beraktivitas, namun kulihat sebagian besar mereka membicarakan sesuatu yang aku tidak pahami. Aku merasa menjadi seorang satpam yang berada didepan gerbang pintu mall. Tidak satupun yang menyapaku. Aku yang sejak awal memberikan senyuman, namun semua orang membalas senyumku untuk yang lain, bukan membalas senyumku. Senyum untuk miniature mimpi yang akan mereka beli di mall. Atau mereka bermimpi untuk membeli mimpi. Pasti senyum mereka sangat mahal hingga aku tidak mampu untuk membelinya.

Angin ditempat itu semakin kuat menarikku kedalam. Bunyi keramaian semakin liar berlari-lari didinding telingaku. Hingga saat kuhampiri, kulihat banyak bayang manusia yang penuh gerak. Aku sadar mereka memperhatikan keberadaanku. Teringat aku oleh celotehan nenek Lanji yang tidak pernah berhenti walau dia tahu aku tidak memperhatikannya. Begitu juga keramaian ditempat itu, bunyinya seperti celotehan nenek Lanji. Celotehan terus berlanjut, aku tetap saja melanjutkan perjalananku tanpa memperhatikan keberadaan mereka. Aku tahu analogiku payah, tapi inilah alat untuk menghilangkan rasa maluku.

Sebuah papan bertuliskan, kota seperti. Aku bertanya dalam hati, apa papan itu tidak cukup panjang untuk nama kota ini? Atau ada bagian papan yang hilang? Atau memang nama kota itu seperti? Untuk sebuah kota, ini bukan standar dalam kepalaku. Kota yang aku bayangkan itu adalah bangunan-bangunan tinggi nan sombong, tegak menusuk langit. Kebisingan mesin-mesin pabrik dan kendaran. Polusi yang terus mengotori lubang hidungku. Bahkan kota itu jumlah penduduknya tidak lebih dari 89 orang. Aku bahkan dapat dengan cepat menyebarkan bau keringatku ditiap sudut kota sambil membuat sebuah sensus penduduk kota seperti. Tapi inilah kota bagi mereka.

Dari semua bangunan yang ada disana, hanya satu bangunan yang sangat unik untukku. Bangunan paling tinggi membentuk tower pemantau dengan sebuah lampu sorot yang mengarah pada satu titik. Satu titik dimana terdapat sebuah patung manusia setinggi 6 kaki yang berjongkok tersenyum dengan tangan terikat dibelakang. Aku kenal patung itu. Seorang anak berumur 16 tahun yang bingung dengan kota yang baru ia temui. Seorang anak yang penuh dengan tahi lalat ditubuhnya. Anak yang tinggal bersama seorang nenek, karena ayah dan ibunya telah tiada. Ayah dan ibunya tewas saat akan menolong wanita paruh baya yang mencoba bunuh diri. Wanita paruh baya itu ingin memasukkan dirinya kedalam kubangan lumpur hidup. Pada akhirnya, suami isteri itulah yang terlempar masuk kedalamnya dan wanita paruh baya itupun selamat dari maut.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menutupi sumber air mataku. Menghentikan tangisku. Tiba-tiba saja ritme jazz jantungku berubah menjadi ritme metal. Terus berdetak cepat membuat mataku semakin melotot. Lututku bergetar, tidak lagi mampu menopang tubuh mungilku. Dengan leher tertunggak keatas, air mataku terus berserakan. Tanganku turun kaku dengan kepalan yang ingin kulepaskan saja. Tapi sulit melakukannya. Aku terus menagisi diriku sendiri di atas kota seperti yang tidak aku kenal sama sekali. Hanya satu yang paling aku kenal, patung itu. Patung diriku. Patung diriku yang dibuat oleh tangan nenek Lanji di kota kelahirannya. Kota seperti, sebuah kota dibawah kolong meja.

Posted by Menulis Sampai Tua at 19:33:59 | Permalink | No Comments »

Kenapa Sih Harus Belajar menulis?

Kelas ini sebenarnya lahir dari kesadaran yang terbentuk sebagai akibat seringnya kawan-kawan ngumpul dan ngobrol. kami sering sekali diskusi, apapun itu. diskusi buku, pemikiran sampai hasil penelitian yang pernah dilakukan. Kami tahu ada yang kurang dari kami, MENULIS. Budaya menulis sangat minim dilingkungan kami. Sadar akan ucapan seorang kawan, “Menulis bukanlah bakat, tapi kemauan untuk memulai.” Dari kemauan memulai inilah kita akan terbiasa. menulis itu juga mengasikkan, seperti yang kak Aan sering contohkan, “Saat disekolah dulu, kita sulit sekali jika disuruh guru untuk membuat sebuah karangan. Sulit untuk memulainya. Namun ketika guru memerintahkan untuk berhenti karena waktu telah habis, tidak satupun diantara kita yang mau menghentikan menulis, apalagi menaruh bolpoin. Sampai saat guru pergi dari ruang kelas, kita akan terburu-buru mengejarnya untuk dikumpul dan berharap akan dibaca olehnya.”
Kami bukanlah penulis handal, hanya sekelompok anak muda dan merasa muda yang payah dalam menulis. Ada yang awalnya terkesan dengan Andrea, sampai-sampai ingin bisa menulis seperti dia. Ada juga yang awalnya dari menulis tugas-tugas kuliah. Eh, ada juga lho yang ingin bisa menulis karena tulisannya kayak “cakar ayam”.
Kami bertemu satu kali dalamseminggu, sepertinya iku kurang karena kami selalu merindukan kelas itu. Merindukan saat-saat latihan menulis bersama, tertawa, membacakan hasil tulisan didepan kelas. Dan yang paling seru, banyak games yang diberi oleh pembimbing untuk memotivasi kami menulis. Sepertinya menulis sudah menjadi kebutuhan buat kami. Tulisan yang hadirpun beragam sesuai dengan minat kami. Ada yang suka menulis cerpen, menulis essay, menulis sejarah, menulis prosa, pokoknya yang mana paling kami gemari dan merasa nyaman.
Ada lagi, dengan menulis kami juga bisa menuliskan sejarah kami. Sejarah dimana kami berada, beraktifitas, yang tidak mungkin bisa diinggat oleh dunia jika hanya diucapkan. Jadi kalau mau tetap dikenal oleh dunia, bahwa kita pernah ada dan hidup, tulislah sebelum menulis itu dilarang. lagian kalau sudah sering menulis, bakal ketagihan deh.

Posted by Menulis Sampai Tua at 18:53:33 | Permalink | Comments (1) »