Saturday, December 6, 2008

Menuliskan Kota yang Bernama Seperti



Seperti Kota, Kota Seperti

            Ichul

Seperti sebuah titik kecil.

Jika melihatnya dari bulan ia tak nampak memanjang sebagaimana Tembok Besar Cina. Ketika mata kita semakin mendekat pada orbit bumi seperti bagai sebuah pirigan pesawat alien terdampar ditengah biru laut. Piringan dengan sayap dua gunung yang berada disisi barat dan timur kota. Dari atas, pandangan yang makin merapat kita tak akan sulit menemukan titik pusat dari pulau bulat menyilaukan itu, sebuah pohon menjulang perkasa, rimbun, besar, tak normal. Pohon yang menghidupi seperti.

 

Seperti dibekap malam,

waktu menunjuk pada pukul 12.00 malam Jumat kliwon, menit yang menandai peralihan hari. Masehi telah masuk di tanggal 12, bulan12, tahun 2012. Sebuah tautan angka dua belas yang aneh dan semoga saja bukan isyarat aneh!!! Malam di seperti sedikit terusik dijam itu, sebuah pengumuman terdengar,tepatnya imbaun atau kasarnya  perintah.  Titah dewan kota bagi warga untuk berkumpul dipusat kota tepat pukul 06 lewat 06 menit esok pagi.

 

Seperti, kota yang mengerti.

Suara pengumuman tak harus menyeruak ribut, bising oleh pengeras suara sampai mengganggu ketenangan warga diwaktu istirahat atau suara pengumuman yang kadang tiba-tiba hadir mendominasi tanpa ijin ditengah-tengah banyak orang yang lagi asik bercengkrama. Semua saluran informasi,media komunikasi, telah terhubung satu sama lain,dari rumah kerumah dilengkapi perangkat audio-visual dengan segala fitur canggih, waktu dan ruang secara nyata dilipat tanpa . Pusat informasi kota lah yang menjadi corong, mengurusi dan mengontrol segalanya dengan baik. Sensornya tak akan membiarkan gosip-gosip, gagasan aneh, prilaku nyeleneh dan penyebab distabilitas lain berkelana seenaknya didalam kota, sejak lama tertib telah jadi pembiasaan, teratur dan disiplin menjadi kewajiban tata laku.

 

Sepertidibungkus pakem keseragaman.

Rumah-rumah warga berbaris melingkar rapi menghadap pohon ditengah kota sebagai kiblat. Rumah seragam dengan bentuk, ukuran, warna dan isi nyaris sama, kecuali satu ruang yang dibiarkan bebas dikreasi tiap penghuni sebagai ruang kerja. Kita akan mendapati keistimewaan yang berbeda ditiap rumah pada jenis ruangan ini, isinya tentu berupa perabot yang disesuaikan dengan jenis profesi atau pekerjaan tiap penghuni rumah. Segala aktivitas kerja  digerakkan diruang ini oleh tiap warga dirumah masing-masing. Kaum hiper-profesional tepatnya sebutan bagi seluruh pekerja dikota seperti. Hiper dalam arti kontak kerja yang berlangsung dalam kota dilakukan tanpa perlu perjumpaan fisik. Sang dokter mengobati pasien, dewan kota mengadakan rapat, pengacara bersama hakim bersidang, dan kerja lainnya telah terhubungan secara tak terbatas oleh kecanggihan zaman. Pekerja keras dengan otot seakan tak berhak lagi hidup diseperti karna manusia  seperti hidup dari jeri payah kemahiran berpikir dan mencipta. Mencipta benda-benda yang memanjakan hidup. Memperjual belikan isi kepala kepada dunia luar adalah komoditas utama kota sambil menikmatinya produk materialnya sendiri. Tak heran, ketika rumah rumah hanya diiisi oleh benda-benda yang hanya punya dua identitas, fungsional kalau tidak estetik. Atap rumah seluruhnya tertutupi panangkap energi surya dengan kapasitas extra sebagai sumber pasokan energi listrik kota, berbagai furniture multi fungsi dengan segala tetek bengeknya tak luput menghias seisi ruangan, keramik serba lux melapisi lantai dan dinding, pastinya tak terlupa pendingin sekaligus penghangat ruangan untuk mengatasi tiap perubahan cuaca. Maksimalisasi fungsi alat canggih  hanya melekat dan digunakan dirumah sebab kota seperti, tak mengenal kantor, ruko, pusat perbelanjaan, sekolah, rumah ibadah, penjara, rumah sakit, jalan raya, gang kecil dan bangunan lainnya. Rumah cukup untuk melakukan seluruhnya.

 

Seperti nyaris tak menyisakan ruang terbuka.

Kecuali tanah lapang, dua gunung dan bibir pantai diutara dan selatan kota, atap rumah perak menyilaukan menutupi semua daratan. Hal luar biasa lain terlihat nyata dengan hanya satu moda transportasi, kereta bawah tanah dapat diakses langsung dari tiap rumah, tanpa macet tanpa emisi, tiap manusia dan barang kebutuhan segera akan berpindah tempat berlalu lalang tanpa kata terlambat. Kereta pemanja itu berkeliling dari rumah kerumah. pelabuhan dipantai dan ruang publik kota berupa tanah lapang ditumbuhi pohon itu adalah dua tempat juga yang dikenalnya. peradaban bin ajaib penuh ketakjuban pantas digelari bagi kota seperti.

 

Seperti telah menyambut pagi, seluruh warga kota telah berkumpul.

Semua tampak biasa saja. Tanah lapang berukuran dua belas kali lipat lapangan futsal dengan pohon besar ditengahnya kembali ramai, tiba-tiba ketegangan dan kebekuan hinggap ditiap wajah orang dewasa, tak luput pohon besar beserta dua belas cabang dan dua belas dari ranting ditiap cabang seolah menyatu dengan ketegangan itu. Imbauan semalam untuk berkumpul ternyata menjadi awal berita perubahan, perubahan yang masih dihantui kegamangan dibalut sedikit ketakutan. Kata perubahan sebenarnya tak asing dan seharusnya tak mengagetkan semua orang karena manusia seperti adalah para agen perubahan yang sejati, hasil isi kepala merekalah yang selama ini menggerakkan tiap perubahan seluruh pelosok jagad bumi. Pengumuman oleh dewan kota yang diwakili tetuahnya sejenak tak mengusik kesenangan para anak kecil yang berlarian, bermain, berbagi kesenangan dengan kawan seumurannya ditanah lapang itu.

 

 Seperti hari ini tak biasa.

Bagaimanapun tak ada yang menyenangkan ketika meluncur rangkaian kata dari tetuah, “tepat pada jam 12.00 siang nanti pohon itu harus dilenyapkan, mohon maaf keputusan ini telah final, sebuah kalimat penutup pidato yang dipenuhi suara keraguan .” Pohon yang menjadi kebanggaan sekaligus penjaga kota akan tergantikan oleh menara pencakar langit. Menara yang bisa menjawab kerinduan warga akan pemandangan terbitnya mentari pagi dan senja sore hari. Menara yang nantinya akan mengatasi gunung yang selama ini menghalangi kota dari mentari dan senja. Menara baru masa depan atau kiamat bagi kota. Mitos pohon itu rupanya tertanam rapi dikepala tiap orang, jika pohon itu ditebang akan mendatangkan bencana besar bagi seperti. Ruang dan waktu yang telah terbiasa dilipat oleh kecanggihan teknologi rupanya tak mampu melipat jam dua belas nanti, tak bisa menemukan jawab gerangan apa yang akan terjadi setelah pohon itu tiada, pada detik itu kata keterbatasan rupanya menjadi kosakata baru bagi semua manusia seperti. Tanpa perlawanan tanpa keributan semua harus terjadi, ketaatan adalah kata pertama dikamus kota, begitulah adanya. Kuasa sepenuhnya ditangan dua belas manusia seperti sebagai dewan kota.

 

Seperti telah hadir dijam 12.00.

Hari jumat tanpa terik tanggal 12, bulan12, tahun 2012. pohon takdir itu, tanpa butuh waktu lama telah tumbang, sekali lagi teknologi canggih telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Sepersekian detik setelahnya kecemasan tak terlihat, segalanya ikut lenyap bersama sang takdir…ketiba-tibaan.

 

Seperti hilang tanpa ada yang mengerti…        

Seperti

    Ais

SEPERTI…seperti inilah dia dahulu! Sebuah kota yang penuh dengan kedamaian, selalu! Kalian tahu? Di pemukiman,ketika pagi hari, betapa riangnya anak-anak bermain. Berputar-putar, berlompat-lompatan, berlari-lari sambil berkejaran. Terkadang disaat bermain, ada yang menangis dan hanya sebentar saja kemudian kembali bermain lagi. Penuh keceriaan dan kebahagiaan di wajah mereka. Serasa berharap waktu tidak berubah sehingga membuat mereka berhenti bermain. Di pasar, keramaian pun tak terelakkan! Para pedagang selalu memberikan yang terbaik bagi para pembeli. Kualitas dagangan yang baik membuat para pembeli akan mendapatkan kepuasaan. Ditambah dengan harga yang murah, membuat pembeli rela dengan sabar mengantri. Yah! Dengan sabar menunggu tanpa berebut satu sama lain.

Hangatnya keramahan dan senyuman mereka,seakan-akan membuat bau amis dari daging dan ikan yang dijual serta bau keringat tak pernah tercium oleh mereka. Tak kalah damainya, sebuah taman yang berada di tengah kota! Setiap sore, merupakan tempat istirahat dari seharian bekerja. Tak jarang, juga dijadikan tempat untuk pasangan kekasih bermesraan. Berbagai macam bentuk, warna, dan juga wangi bunga membuat mereka enggan untuk beranjak dari kursi taman. Ditambah sekelompok merpati putih berlomba mematuk jagung yang dibuangkan oleh mereka di taman. Menghambur terbang dan kembali lagi, menambah kemesraan mereka yang memadu kasih.

Malam harinya, kota tetap terang. Lampu-lampu taman, rumah-rumah, dan jalanan di sepanjang kota diterangi oleh cahaya lampu. Tiap sudut kota tak ada yang luput dari cahaya lampu-lampu itu. Seluruh kota menjadi terang. Setiap hari, setiap malam kehidupan di kota ”SEPERTI” ini berjalan dengan damai. Berbulan, sampai bertahun, dan sampai pada satu waktu dimana kota ini mendapat musibah.

Penyakit yang disebabkan oleh virus menewaskan warga kota. Masih ingatkah kalian dengan sekelompok merpati putih yang ada di taman? Ya! Merpati-merpati yang ternyata membawa virus itu. Virus flu burung yang mematikan. Awalnya warga mengira bukan virus yang menyebabkan kematian warga. Mereka belum pernah mendapatkan penyakit seperti ini. Sampai pada suatu hari, kota ini mendatangkan dokter ahli dari kota seberang. Setelah diteliti, sang dokterpun akhirnya mendapatkan penyebabnya. Butuh waktu sebulan untuk membuat obatnya.

Warga semakin panik, karena virus itu menyebar dengan cepat dan menewaskan semakin banyak warga. Sebulan berlalu, seperempat warga kota, sekitar 500 orang tewas akibat virus itu. Parahnya obat yang dihasilkan sangatlah sedikit. Hanya dapat menyembuhkan sekitar 5 orang saja. Kepanikan warga tak dapat ditahan lagi. Kekacauan mulai terjadi di kota ini. Warga saling berebutan untuk mendapatkan obat itu. Demi bertahan untuk tetap hidup,mereka kemudian saling membunuh satu sama lain. Di sepanjang jalan, warga berkerumun saling membunuh. Di satu sisi warga tewas karena terjangkit virus, sedangkan di sisi yang lain warga pun tewas karena saling membunuh. Sampai pada akhirnya, tidak ada satupun dari mereka yang hidup.

SEPERTI… seperti inilah dia akhirnya! Dahulu hidup dengan damai, kemudian berakhir dengan kekacauan. Saling membunuh satu sama lain sampai tak ada lagi makhluk hidup yang tersisa. Kita tidak akan pernah lagi melihat sekelompok anak yang bermain di pagi hari dengan penuh keceriaan dan tawa dari wajah mereka. Tak ada lagi keramahan dan senyuman dari para pmbeli dan pedagang di pasar. Tak ada lagi kemesraan dari pasangan kekasih, wangi bunga, serta sekelompok merpati putih ditaman kota ketika sore hari. Dan tak ada lagi cahaya lampu kota di malam hari. Kini kota itu menjadi kenangan. Adakah kalian menginginkan kota ”SEPERTI” ini? Kota yang penuh dengan kedamaian. Yah! aku, menginginkan kota ”SEPERTI” ini…SEPERTI yang dulu.


Seperti, Kota di Bawah Kolong Meja

    Agung

Malam ini tidak begitu gelap. Cahaya kecil memberi banyak kuasa mata untuk menjangkau tiap sudut ruang rumah nenekku. Dinding badan istananya tebuat dari kayu Meranti berumur puluhan tahun. Hawa hangat memaksa pori-pori telapak jari merasa retakan serat-serat kayu. Begitu kasar dan hangat. Jari-jari terus merayap dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari dinding gudang menuju tangkai pintu, kemudian menggenggam tangan tangga menuju gudang bawah tanah milik nenek Lanji.

Sejak aku berumur 6 tahun, nenek Lanji mengambilku dari orang tuaku untuk diasuh. Nenek Lanji berumur 89 tahun bulan November ini. Sejak ditinggalkan suaminya  enam belas tahun yang lalu, nenek Lanji hidup sendiri di sebuah kawasan hutan Bakau, di pesisir utara Pulau Bunyu. Pulau Bunyu hanya sebuah pulau kecil disebelah utara pulau besar Borneo. Cukup dengan mengendarai sepeda motor , dalam waktu 15 menit wilayah pulau itu bisa aku datangi semua. Di pulau inilah Nenek Lanji membangun sebuah rumah. Dengan dua buah kamar tidur, sebuah ruang utama di samping kiri kamar tidur, serta dapur yan terhimpit oleh gudang dan kamar mandi di belakangnya. Itu adalah sisi rumah Nenek Lanji yang aku ketahui. Sampai aku mengalami de javu malam itu dan menemukan gudang nenek Lanji  yang lain tepat di bawah gudang.

Aku tahu nenek Lanji sakit demam. Dia enggan bangkit dari tempat tidurnya yang teranyam dari rotan. Melihat keadaan itu, aku memaksa diriku untuk beranjak kepintu disisi lantai gudang nenek Lanji. Pintunya hanya cukup untuk tubuhku sendiri, itupun aku berusaha mengerutkannya seperti peluru meriam yang dipaksa masuk kedalam lubang dengan tongkat penekan. Didalam ruangan itu, semuanya biasa, tidak ada yang aneh. Disisi kanan dan kiri tangga masuk rak-rak yang tertempel didinding. Berhimpit buku-buku yang semua sampulnya berwarna merah. Tepat dihadapan pintu masuk, sebuah meja tua dengan tiga kaki yang menopang tubuh persegi panjangnya, menarik seluruh perhatianku. Aku pernah ketempat ini, dalam hati aku bergumam. Pikiranku berlari kemanapun ia mau mendapatkan kaingintahuannya. Keingintahuan tentang apa nama peristiwa yang seolah pernah dialami dalam mimpi. De javu, sambil menganggukkan kepala, aku menjawab sendiri pertanaanku. Dikolong meja tua itu, tertata rapi dilantai kelopak-kelopak bunga mawar merah tertempel membentuk angka 89.

Saat pertama akil balik, nenek Lanji mendatangiku pagi itu. Dia bertanya padaku, “Apakah kamu sudah bertemu perempuan dalam mimpimu semalam?” aku hanya terdiam sambil menutupi selangkanganku dengan bantal karena malu. Celanaku basah dan kesat saat itu. Cairan yang keluar dari  kelaminku tidak berbau pesing dan warnanya beda. Ini bukan sesuatu yang sering kualami.

Nenek Lanji juga sering bercerita tentang sebuah kota yang ada dalam dasar lautan lumpur Bakau. Namun tidak satupun cerita yang menarik buatku. Saat nenek Lanji bercerita, aku hanya memikirkan bagaimana pekerjaanku esok hari. Menangkap kepiting bakau sebanyak-banyaknya untuk dijual dipasar. Hanya satu kata yang aku ingat dari cerita itu, seperti. Kemudian aku akan tertidur tanpa memperdulikan celotehan nenek Lanji yang terus asik dengan ceritanya.

Saat kusujudkan tubuhku untuk bisa melihat jelas angka 89 dibawah kolong meja itu, tiba-tiba dinding gudang serentak menghimpitku hingga menjadi lempengan besi tipis. Sangat tipis, hingga sisi sampingnya terlihat seperti sebuah garis lurus. Namun kemudian aku kembali tersadar, kembali berada digudang nenek Lanji dari perjalanan yang melelahkan. Aku kenal dengan udara ini, suasana ini. Begitu sejuk, membuatku ingin menjadi batu besar agar tidak terangkat dan tetap berada dititik itu. Aku bayangkan, aku mendapatkan hasil tangkapan kepiting yang sangat banyak. Keringat yang membungkus parit-parit tubuh akibat teriknya siang. Kemudian aku duduk dibawah pohon bakau lebat dengan membuka bujuku yang basah. Anginpun menabrakkan cinta kasihnya tepat ditubuh lembab ini dengan kesejukkannya. Begitu nikmat terasa, hingga akhirnya keringatku terbang bersama angin pantai yang mengalir deras.

Langit saat itu tidak berwarna biru, karena langit ditumbuhi kapas-kapas warna putih. Apa langit sedang mendung? Tapi matahari bersinar cerah seperti tidak satupun awan yang berusaha menghalangi sinarnya. Matahari itu tidak panas, dia begitu sejuk hingga keringat tubuhku malu untuk bersentuhan dengan cahayanya. Matakupun enggan berkatup karena kilau cahaya indahnya.

Saat mulai melangkah, akupun tersadar bahwa tanah tempat kakiku melangkah adalah padang lumpur coklat. Sebagian permukaan telapak kaki bersembunyi diantara lunak padang lumpur. Aneh aku rasakan. Langkahku tidak berat. Tidak seperti berjalan diatas lautan lumpur. Aku seperti berada diatas motor grant prix yang melesat kencang diatas sircuit. Tidak perduli lagi untuk mengurangi kecepatan saat bertemu tikungan. Aku adalah pemenang garnt prix musim ini.

Musim panas tahun lalu, nenek Lanji mengajakku menanam bibit pohon bakau bersama. Tepat disudut kiri belakang rumah. Sambil menanam, nenek bertanya, “Cu, kamu tahu kenapa akar bakau keras ini saling melengkapi dengan lumpur yang lunak?” aku enggan menjawabnya. Aku tetap saja melanjutkan aktivitasku. Menusuk-nusukkan lumpur dengan sebatang kayu. Sekeras apapun aku menghantamkan kayu kelumpur, tetap saja perlahan lubang dilumpur menutup, seakan tidak pernah ada yang menyentuhnya. Aku tahu, nenek Lanji akan menjawab pertanyaannya sendiri. Nenek Lanji tidak akan mau berlama-lama menungguku untuk menjawabnya, karena dia tahu aku tidak akan bereaksi dengan pertanyan itu. Kemudian melanjutkan, “Kelembutan lumpur ini kelak akan berbuah keseimbangan. Batang kayu bakau yang kokoh dengan helaian lembut daun hijau”. Sejenak kulihat nenek Lanji sedang menatap tajam mataku, dan melanjutkan lagi, “Didasar lumpur itu ada sebuah kota. Kelak kamu akan tahu 89 orang manusia luar biasa yang pernah hidup dikota itu”. Akupun tersenyum kecut padanya dan bergegas melanjutkan pekerjaanku. Bagiku didasar lumpur hanya ada binatang-binatang aneh yan menjijikan. Sangat menjijikan seperti janin alien penuh lendir yang selalu aku bayangkan setelah menontonnya di televisi.

Lima kilometer berjalan, kudapatkan sebuah hutan bakau. Sulaman ranting bakau itu membentuk pagar dengan pola kepangan. Pasti yang menyulamnya orang Afrika. Teringat lagi tontonanku semalam, seorang atlet lari asal Hutu yang mengepangkan rambutnya sangat rapi. Diantara sulaman terdapat sebuah celah masuk kedalam hutan bakau. Ketika masuk kedalamnya, aku tercengang melihat sebuah pemukiman manusia didalamnya. Tidak banyak orang didalamnya, tapi aku masih juga bodoh untuk membedakan mereka. Tempat tinggal mereka sebagian besar terbuat dari bagian pohon bakau. Atap rumah dari daun bakau, dindingnya nampak rajutan ranting bakau, serta pondasi kokoh akar bakau. Jalan didalam tempat itu nampak seperti rel kereta api, namun besi-besi itu adalah akar pohon bakau yang muncul dari permukaan lumpur membentuk garis-garis jalan rel. seperti pemukiman manusia pada umumnya, semua bangunan sangat fungsional. Ada tempat tinggal, pusat aktivitas, tempat ibadah dan lain-lain. Semuanya dari pohon bakau yang tumbuh alami. Semua orang didalamnya terus beraktivitas, namun kulihat sebagian besar mereka membicarakan sesuatu yang aku tidak pahami. Aku merasa menjadi seorang satpam yang berada didepan gerbang pintu mall. Tidak satupun yang menyapaku. Aku yang sejak awal memberikan senyuman, namun semua orang membalas senyumku untuk yang lain, bukan membalas senyumku. Senyum untuk miniature mimpi yang akan mereka beli di mall. Atau mereka bermimpi untuk membeli mimpi. Pasti senyum mereka sangat mahal hingga aku tidak mampu untuk membelinya.

Angin ditempat itu semakin kuat menarikku kedalam. Bunyi keramaian semakin liar berlari-lari didinding telingaku. Hingga saat kuhampiri, kulihat banyak bayang manusia yang penuh gerak. Aku sadar mereka memperhatikan keberadaanku. Teringat aku oleh celotehan nenek Lanji yang tidak pernah berhenti walau dia tahu aku tidak memperhatikannya. Begitu juga keramaian ditempat itu, bunyinya seperti celotehan nenek Lanji. Celotehan terus berlanjut, aku tetap saja melanjutkan perjalananku tanpa memperhatikan keberadaan mereka. Aku tahu analogiku payah, tapi inilah alat untuk menghilangkan rasa maluku.

Sebuah papan bertuliskan, kota seperti. Aku bertanya dalam hati, apa papan itu tidak cukup panjang untuk nama kota ini? Atau ada bagian papan yang hilang? Atau memang nama kota itu seperti? Untuk sebuah kota, ini bukan standar dalam kepalaku. Kota yang aku bayangkan itu adalah bangunan-bangunan tinggi nan sombong, tegak menusuk langit. Kebisingan mesin-mesin pabrik dan kendaran. Polusi yang terus mengotori lubang hidungku. Bahkan kota itu jumlah penduduknya tidak lebih dari 89 orang. Aku bahkan dapat dengan cepat menyebarkan bau keringatku ditiap sudut kota sambil membuat sebuah sensus penduduk kota seperti. Tapi inilah kota bagi mereka.

Dari semua bangunan yang ada disana, hanya satu bangunan yang sangat unik untukku. Bangunan paling tinggi membentuk tower pemantau dengan sebuah lampu sorot yang mengarah pada satu titik. Satu titik dimana terdapat sebuah patung manusia setinggi 6 kaki yang berjongkok tersenyum dengan tangan terikat dibelakang. Aku kenal patung itu. Seorang anak berumur 16 tahun yang bingung dengan kota yang baru ia temui. Seorang anak yang penuh dengan tahi lalat ditubuhnya. Anak yang tinggal bersama seorang nenek, karena ayah dan ibunya telah tiada. Ayah dan ibunya tewas saat akan menolong wanita paruh baya yang mencoba bunuh diri. Wanita paruh baya itu ingin memasukkan dirinya kedalam kubangan lumpur hidup. Pada akhirnya, suami isteri itulah yang terlempar masuk kedalamnya dan wanita paruh baya itupun selamat dari maut.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk menutupi sumber air mataku. Menghentikan tangisku. Tiba-tiba saja ritme jazz jantungku berubah menjadi ritme metal. Terus berdetak cepat membuat mataku semakin melotot. Lututku bergetar, tidak lagi mampu menopang tubuh mungilku. Dengan leher tertunggak keatas, air mataku terus berserakan. Tanganku turun kaku dengan kepalan yang ingin kulepaskan saja. Tapi sulit melakukannya. Aku terus menagisi diriku sendiri di atas kota seperti yang tidak aku kenal sama sekali. Hanya satu yang paling aku kenal, patung itu. Patung diriku. Patung diriku yang dibuat oleh tangan nenek Lanji di kota kelahirannya. Kota seperti, sebuah kota dibawah kolong meja.

Posted by Menulis Sampai Tua at 19:33:59
Comments

Leave a Reply