Tuesday, December 9, 2008

Sebuah Cerita Pendek

 

            Agung Dan Fachrul

 

Teater yang Menakutkan

Dan untuk semua identitas yang lahir dari tafsiran dunia, membawaku pada sebuah pulau yang tidak diharapkan para pelaut, bisa terdampar disana. Kondisi yang membawaku pada keterjebakan idealisme, ya, idealisme yang tidak kuharapkan. Bahkan sampai hari ini, tidak mampu aku mengenal bagian yang kucintai. Bagaimana mungkin saat itu aku mengenalnya, bahkan tanpa pertimbangan menyayangginya?

Sabtu itu aku terlalu sibuk untuk melihatnya, saat malaikat bertanya padaku kapan pertama aku melihatnya, aku masih terlalu sibuk dengan hirupan nafasku, bahkan untuk menjawab pertanyaan itu, aku masih sibuk. Bukan hanya kesibukkan yang melarangku meliriknya, nyatanya aku memang tidak tertarik untuk memperhatikannya.

Suhu udara dalam kendaraan mulai naik, pendingin ruangan tidak berfungsi, ditambah lagi ruang gerak yang sempit, membawaku pada sebuah alasan yang kelak akan menjadi kenangan bahagia jika kami membicarakannya. Sebuah tablet penenang perut yang meminimalkan rasa mual dan pusing, kutelan bersama sebotol air dingin. Aku tahu perjalanan akan begitu lama, sebelumnya aku mencontek dalam sebuah peta yang tertempel didinding kamar seorang teman.

Tiba-tiba mataku terpejam setelah angin melintas dan menghantam wajah ku yang sementara kubalut dengan sapu tangan pemberian ibuku, kemudian itu aku merasa ada yang mengikutiku tapi tidak tau siapa..? kebisingan disekeliling ku  terus terbesit seolah-olah ada yang ingin disampaikan, namun karena begitu kencangnya putaran ban karet mobil menggilas aspal panas, hilang begitu saja. Dikiri jendela tepat didepan ku sipenghibur hati tetap bisu dan merasa  acuh tak peduli dengan sekitarnya.

Langkah kakiku terhenti sejenak setelah aku mengingat ternyata ada yang terlupa dalam perjalananku, sadar akan hal ini membuat diriku sejenak merinding ketakutan yang belum pernah aku merasakanya. Aku lupa membawa bayang-bayang kenanganku, kenangan yang gelap, yang selama tiga bulan ini terus memberikan alasan untuk tidak bermimpi saat malam tiba. Tapi aku memang meninggalkannya dalam sebuah kantong baju berwarna hijau muda, telah kuselipkan diantara kertas mantra. Aku sengaja melupakannya, aku ingin kebahagiaan hari ini, sedikit saja. Sang penghibur hati yang bisu tadi, melihat wajah ku yang begitu pucat seperti aku baru bertemu iblis yang menanyakan keberadaanku.

Orang-orang terlalu sibuk dengan pikirannya, aku selalu bertanya pada mereka, kenapa tidak pikirkan aku saja. Aku ada diantara mereka, tapi terasa jauh dari ini semua. “pak sopir, antarkan saja aku keliling dunia untuk cari semua yang mau pikirkan aku” berkata dalam hati ini. Hati? Yang mana “hati” itu, apa benar dia ada, atau hanya itu konsep orang-orang yang putus asa mencari identitas diri?

 Dua buah becak kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju pantai yang dipaksakan indah dengan keramaian yang mewah, terlalu mewah untuk kehadiran sang pengemis. Disana aku melihat dua orang yang umurnya sekitar 40 tahun,  orang tua  itu terlihat dalam kebingungan sambil memencet kamera digital yang digenggamannya, mataku selalu melotot mengikuti jejak kakinya melangkah kemanapun. Hembusan gelombang ombak yang sesekali menuju kedaratan membuat orang tua itu ketawa terbahak- bahak sambil mengambil gambar ombak, hanya ombak yang berada di pinggiran kedangkalan. Sekarang aku diintrogasi sang penghibur, seperti dongeng agamawan, aku berdiskusi dengan malaikat yang begitu lembut dengan cambuk api. Cambuk api yang siap menghantam penganggu diskusi kami, bukan untuk menghukum ketidaktahuanku.

Pemandangan yang begitu menajubkan yang membuat pikiran ku bertanya-tanya “siapakah yang memiliki semua ini?” Jawaban pembenaran klasik pasti akan menjawab Tuhan, aku tahu itu, tapi lebih tepatnya “tuhan-tuhan kecil” yang merampas rumah-rumah masyarakat, untuk mengindahkan pemandangan kota. Sebuah lukisan yang tidak diharapkan disingkirkan. Bagiku rumah mereka sangat indah, dinding kayu lapuk, seng karatan, anak-anak yang dikuruskan badannya oleh saudara-saudaranya yang serakah. Semuannya indah, semuanya diciptakan dengan keindahan. Tapi semuanya dihancurkan oleh keindahan yang dikonstruk secara massal dan fana, tanpa mampu melihat rumah kumuh dari segi lain. Setidaknya ada tempat bagi mereka yang kaya untuk menghamburkan harta mereka. Tempat prostitusi itu semakin indah dengan lampu warna warni, padahal dulu menjadi tetangga rumah kumuh itu, hanya saja rumah kumuh nelayan tidak seberuntung bangunan kenikmatan nafsu itu, jelas rumah kumuh tidak menjanjikan apa-apa selain pemandangan yang mampu memaksa orang-orang menangis, tapi tidak semua. Air yang terhempas begitu luas, kemudian dikelilingi oleh pula-pulau kecil, kapal-kapal tetap diam tak bergerak seakan kehabisan solar, dan penataan taman yang rapi serta gambar kapal yang bertulis pantai losari, tetapi semuanya itu dikotori oleh etika manusia yang tidak memahami dan memaknai keindahan lagi. Lagi-lagi sang penghibur hati asik dengan pencariannya, pencarian atas jiwa yang tercecer sejak lama.

Aku belum juga tertarik memperhatikan lebih dalam kedua orang itu, sementara temanku sedang asik dengan kamera dan objek manusia tua tersebut. Sampai akhirnya aku beranikan diri menghampiri dua manusia asing diantara banyaknya manusia-manusia asing lainnya. “Pantai ini tidak terlalu indah untuk objek seindah bapak.”  Berusaha membuka perkenalanku dengan alien itu, “Bibir anda yang terlalu indah untuk mengomentari kami berdua yang tersesat dipulau asing, yang kami baru pertama kali menginjakkan kaki disini.” Aku hanya tersenyum sambil meneruskan percakapanku, sementara dalam jiwaku yang lain asik menanyakan, apa yang sedang dia pikirkan tentangku. Perempuan disebelahnya yang seumuran dengan dia terus diam seperti laut yang tenang dihadapanya. Ya, laut itu begitu dalam. Gelisah memaksaku untuk mengorek tentangnya, tapi apa yang akan kukatakan untuk memulai pembicaraan? Apa aku tanyakan saja dengan bapak yang terus mengoceh ini, atau kantor polisi bisa memberikan sedikit info tentang dia. “Apa istri bapak terbiasa dengan lamunan sorenya?”, ah, apa aku telah benar mengatakannya. “Dia teman saya di rumah sakit, dia juga ahli di bidang bakteri bersama saya, kan saya tidak bisa mengencani perempuan sulawesi kalau saya bawa anak dan isteri saya.”  Sambil tersenyum dia telah membuatku sedikit tenang dengan lelucon klasik itu. Penghibur hati semakin jauh memunggut serpihan jiwa itu, dia hampir berhasil mendapatkannya dari sekop-sekop yang telah kupinjamkan.

“Engkau begitu muda untuk bisa berfikir seperti saya, mari kesini, mendekatlah.” Seperti ayah yang menarik anaknya dengan uang jajan, di hipnotis diriku untuk mendekat. Tidak, ini seperti sang guru persilatan yang akan memberi ajiannya pada seorang murid sebelum dia akan mati. Dengan bahasa daerah padang, kemudian mengatakan “pegang kata-kata ini, terjepit tapi diatas, terpenjara tapi diluar, belum terlihat tapi sudah tampak.” Sampai aku menulis hal ini, aku tidak mampu menginggat bahasa yang dia sebutkan saat itu, mungkin karena aku bukan orang padang, atau kupingku tidak begitu akrab dengan bahasanya. Sampai dia sendiri yang menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. “kamu mahasiswa politik kan? tidak perlu saya jelaskan kalimat itu, akalmu yang akan mencari semua yang saya sampaikan. Tuhan pun memberi kebebasan pada manusia untuk menafsirkan semuanya dengan akalmu, bukan menerima dengan kepasrahan seperti menerima sebuah buku panduan hidup yang ditafsirkan oleh satu orang untuk seluruh umat.”  

Kedua teman perempuanku telah menjelma menjadi De Saussure, dengan mengemasi barang bawaannya aku mengerti waktu telah habis dan kami harus meneruskan perjalanan. Selanjutnya gedung kesenian, gedung mewah sedikit kuno, yang sedikit sekali orang mau mengaksesnya. Terhampar sebuah baliho, sebuah pementasan hari ini yang menceritakan perjuangan keluarga miskin mencari subsidi pemerintah untuk hidupnya. Setelah lama menyaksikan pementasan tersebut, sebuah benda aneh tak terlihat menghantam kesadaranku. Orang-orang sedang sakit atau gila? ya orang-orang dalam gedung ini, yang sedang mengeluarkan air matanya dengan tontonan ini. Aku banyak melihat adegan ini diluar sana, itu nyata, tidak didramatisir atau seolah-olah sedih tapi mereka tidak mengeluarkan air mata itu. Penggusuran itu sering terjadi, tapi tidak ada air mata yang mengiring perjuangan untuk melawannya. Tapi ketika dipentaskan, dan mereka tau itu hanya sandiwara, tidak nyata, yang mereka tahu setelah pementasan para pemain akan tersenyum, bahkan terbahak-bahak telah sukses memerankan kemiskinan, mereka terisak-isak menanggisinya. “Hei sang penghibur hati! Apa kau menangis untuk acara ini, atau kau menangisi dirimu sendiri?”

Ini gila, semua telah gila! Kemiskinan bisa menyentuh hati mereka saat semua itu didramatisir dalam pementasan, sementara kemiskinan yang nyata diluar sana, mereka menafikkan hati yang begitu lembut, sama halnya ketika  aku menanyakan keberadaan konsep hati itu. Jika mereka sakit, aku, aku yang sadar akan hal itu, aku ini apa? Aku lebih sakit dari mereka!!! lebih gila dari mereka!!! Tahu mereka sakit, tapi terus asik dengan fikiranku dalam sebuah gedung orang gila. Dan engkau yang sempat membaca cerita ini, engkau apa? Engkau masih diam menertawakan perjuangan orang-orang miskin, yang ketika kau menyaksikannya dalam pementasan teater, aku yakin kau akan tersentuh, tapi hanya tersentuh, kemudian terlarut dalam fikiranmu dan mengatakan “ini sebuah pementasan yang sarat dengan pesan moral”, hah, gila!!!

“Cerpen ini depersembahkan untuk Ria yang sedang belajar jadi miskin

dan orang-orang yang mengeluarkan air matanya dengan tontonan kemiskinan”

 

 

Posted by Menulis Sampai Tua at 07:20:16
Comments

One Response to “Sebuah Cerita Pendek”

  1. Anonymous says:

    Maaf, rupanya saya msh awan dalam memahami tulisan, terutama yg ini.Intinya apa yaaa???

Leave a Reply