Thursday, December 11, 2008

Teknik Menulis Asik


            Habibi, Ahmad, Cumming dan Ichul

Menanam pohon di pinggir jalan. Untuk menghindari pemanasan global. NASA pun sepakat dengan pemanasan global. Banyak Negara juga berkumpul untuk membicarakan kelangsungan kehidupan semesta ini. Selain membicarakan kelangsungan hidup, kita harus bertanggung jawab. Karena lingkungan yang sejuk adalah warisan untuk cucu-cucu kita. Aku tidak peduli cucu, yang penting kenyang. Mungkin itulah perinsip hidup yang tertanam pada generasi hari ini. Sampai melupakan pesan bijak bahwa, “Kebaikan alam tergantung kebaikan manusia.”

Mungkin tiap detik manusia dihampiri oleh ketakutan. Mungkin saja manusia itu mengalami depresi. Karena terlalu komplit masalah dalam hidup ini. “Hidup memang susah bung…!!!” Itulah kata yang diucapkan pedagang asongan. Tiap hari kehidupan pedagang itu dibayangi ketakutan tak ada pembeli. Terlalu banyaknya dibangun Mall sampai pedagang itu ketakutan. Bukan hanya uang yang mereka pikirkan, tapi juga pengusaha dan Satpol PP. ketakutan akan berakhir jika setiap orang dapat memaknai hidup.

Pontana adalah desa yang begitu berarti dalam hidupku. Udara segarnya kuhirup sejak aku kecil sampai aku dewasa. Keramahan penduduknya merupakan salah satu yang baik. Desa itu mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan. Hidup didesa lebih mengasikkan ketimbang diperkotaan. Keramahan para penghuni dan rasa gotong royong mewarnai setiap aktifitas di tempat kecil itu. Rasa gotong royong yang tumbuh berdasarkan kesadaran individu di desa itu. itulah yang membuat aku tak pernah lupa terhadap desa Pontana.

Saya berjalan sendiri dari pondok menuju Bibliholic. Dalam perjalanan saya tersentak melihat lampu yang redup. Sejak berapa malam ini aku berharap lampu itu diperbaiki oleh petugas PLN agar jalan terang dan pengguna jalan tidak ketakutan melewatinya. Disamping itu dimanakah peran serta pemerintah. Sudahkah mereka lupa akan janjinya pada saat kampanye. Seandainya janji mereka seperti janji pernikahan, pastilah rakyat akan sejahtera. Tapi harus juga menyalahkan sepenuhnya pada pemerintah, apa lagi terus-terusan menagih janji sebab …banyak lampu jalan yang rusak akibat ulah usil manusia. Dalam hal ini dibutuhkan sekali kesadaran itu sendiri untuk tidak merusaknya sebalum kita menuntut hak kita.

            Wandi, Fandi dkk

Cerita ini berawal dari Janges. Seseorang yang melakukan sesuatu. Janges berasal dari keluarga yang sederhana. Dia tinggal dipondokkan dan masih kuliah. Dia baru masuk ini tahun dan mempunyai banyak teman. Suatu hari Janges jatuh cinta kepada seorang wanita yang kebetulan berbeda fakultas dengan dia. Tapi Janges sudah punya isteri. Ya, wajarlah jatuh cinta untuk sementara kepada seseorang. Tapi jangan lupa bahwa dia sudah punya isteri dan anak.

Pada saat ingin naik ke Makassar, orang tua berpesan hati-hati dijalan. Supaya selamat sampai tujuan. Sampai di Makassar jangan lupa shalat dan rajin masuk kampus. Yang pertama mengirimkan kabar (sms, telpon) kenomor telpon rumah atau nomor handphon orang tua. Tapi aku ingin bebas menjalani kehidupan selama di Makassar. Tapi ingat satu hal yaitu kedua orang tua, keluarga, bangsa. Agar bisa mebalas segala jerih payah selama ini.

Ketika saya pergi kekampus pukul 10.00, menunggu lama, dia belum mucul. Kerena ada suatu hal yang penting diselesaikannya terlebih dahulu. Mungkin dia terlalu lama berdandan di rumahnya. Karena bunyi azan shalat zuhur sudah berbunyi, saya sms saja dia. Dia membalas sms bahwa sudah menuju ke kampus. Lalu saya sms lagi menyuruhnya cepat-cepat kekampus karena ada suatu hal yang ingin diperbincangkan, tentang akademik yang kebetulan ada masalah. Kami telah terkungkung rutinitas tiap hari, ke kampus atau kalian yang ke kantor. Apa yang kalian lakukan hari terakhir ini? Apa kita semua sama?  Tentu tidak. Karena kalau kita semua sama, siapa yang akan mengontrol semua itu.

            Nardi, Reno, Ais dan Agung

Hari ini cukup melelahkan. Lingkar aktivitas yang padat dari kamar tidur hingga kantin kampus. Bayangkan saja tidak ada uang, terus kemarin sore untuk terakhir kalinya aku merasakan kenyang. Walaupun itu tidaklah masuk akal, tapi itulah keadaanku sekarang. Entah esok hidupku bagaimana lagi kalau terus begini. Teringat dengan motto seorang teman “Hidup adalah cobaan.” Tapi aku juga percaya kalau cobaan ini akan menjadi kenangan yang manis. Dan dikemudian hari akan sangat berarti. Tapi aku pikir ini bukan sinetron yang selalu berakhir bahagia, karena segala kemungkinan masih bisa terjadi, termasuk hidupku yang selalu berada dalam cobaan yang menyakitkan.

Kamar ini hanya berukuran 2×3 merter. Tidaklah cukup untuk kami berlima. Padahal malam sudah terlampau larut untuk aku pulang ke rumah. Ya, akhirnya kami paksakan saja bertumpuk seperti ikan Maero tepung dipenggorengan mace Mia. Bayangkan keadaan kamar dimana hanya aku yang tidak merokok dan yang lainnya merokok secara bersamaan. Keadaan ini terasa sangat menyiksa, tapi saya yakin dikemudian hari aku pasti merindukan saat-saat seperti ini. Bermalam dengan teman sekampus beramai-ramai di kamar yang pengap. Seluruh lubang cahaya kututup dengan pembersih telinga. Dan juga asap rokok yang membuatku seperti ikut menghisap dan merasakan kenikmatan asap rokok bagi mereka.

Mungkin saya tidak terbiasa dengan sesuatu yang baru. Buktinya hari ini, ketika aku dipertemukan dengan orang yang memiliki kebiasaan aneh. Menyentuh langit-langit mulutnya dengan bolpoin warna merah jambu. Kenapa harus bopoin warna merah jambu? Kenapa bukan bolpoin hijau atau warna yang lain? hal itu terlihat aneh jika terus aku bayangkan. Bagaimana tidak, aku dari kecil tidak pernah senang dengan warna merah jambu. Coba kulihat lagi, orang itu melototi semua nyamuk yang mendekatinya. Aku semakin bingung hubungan nyamuk dengan bolpoin itu? sampai saat aku sadar, aku hanya berhayal.

Hari ini hari AIDS sedunia, kata Uli HIV menular melalui senyum. Lanjutnya, senyum kemudian mengeluarkan darah, terus mengenai orang. Tidak masuk akal memang, tetapi itulah yang akan terjadi ditahun 2200. Aku juga heran dengan pendapat temanku itu, tapi bisa jadi itu akan jadi kenyataan. Jika benar demikian, apakah semua manusia akan berhenti tersenyum? Atau apakah pada saat itu orang dilarang tersenyum seperti kata orang-orang “Tersenyumlah sebelum senyum itu dilarang!” mungkin saat itu senyum seseorang merupakan barang yang langka. Aku jadi pesimis melihat dunia, kalau pada akhirnya senyum hanya akan jadi bencana bagi yang lainnya. Tidak terbayangkan jika senyumku harus steril dan menggunakan kondom.

Posted by Menulis Sampai Tua at 15:58:11
Comments

Leave a Reply