Teknik Menulis Bebas
Muslina
Free Writing
Hujan hari ini membuat jengkel saja. Membuat orang malas saja. Berangkat dari rumah tadi, langit sudah mulai mendung; saya serasa berlari marathon dan lawannya adalah hujan. Sempat terpikir, mungkin hujan lokal saja. Tetapi selama menempuh perjalanan selama 60 menit di angkutan umum, dari Gowa, masuk ke pusat kota Makassar, sampai akhirnya tiba di pinggiran kota kembali; di seputar Tamalanrea. Cuaca tetap sama saja, hujan dan dingin.
Apa ya, yang membuat sebagian orang, dan khususnya saya, malas beraktifitas jika cuaca dingin karena hujan? Jika direnungkan, mungkin hujan seperti obat tidur, yang jika diminum, berefek; maka dengan segera kita akan tertidur. Begitu pula dengan hujan, bila air dari langit sudah mengguyur tanah, ditambah dengan efek cuaca yang dingin karena hujan, suasana akan tenang dan damai yang dengan segera mengantarkan kita pada lelapnya tidur dan mimpi indah. Belum lagi kebiasaan buruk lainnya, cuaca dingin berteman dengan perut lapar. Akan terasa nyaman dengan suguhan makanan yang serba panas; teh panas, mie rebus dan ubi goreng….. wah, sedapnya!
Hujan memang terasa nyaman dinikmati tanpa aktifitas yang berarti. Hujan akan nikmat dengan tidur-tiduran, malas-malasan, makan-makan dan menghabiskan waktu di rumah sambil menonton film kartun ” Alice in Wonderland ”.
Tapi sebenarnya kenikmatan hujan seperti itu hanya wajib untuk hari libur saja. Hari ini, hujan cukup dengan rasa jengkel saja. Bagaimana tidak, berlomba marathon dengan hujan sudah sangat membuat saya lelah dan pegal……………………….
Membaca
Duduk diam, mengamati gerakan orang-orang di seputar, letak benda-benda dan suara yang riuh rendah memenuhi ruangan ini. Melihat gerak orang; mampukah aku merasai dan menangkap pesan yang terselubung dalam irama geraknya? Mengamati benda; apakah aku dapat merasakan kebahagiaan dan kesedihan dalam hadirnya? Mendengar suara; mampukah aku menangkap dan merasakan kabar yang berlalu lewat hembusan angin?
Setelah lama terdiam………
Rupanya ada yang menarik, setidaknya untuk kurenungkan lagi. Berbagai pendapat, berbagai macam cerita yang terucap dan terbawa melalui pengalaman orang-orang yang kuamati dalam ruangan ini.
Aku semakin merenung, sedahsyat inikah hidup?
Kita bisa mendengarkan berbagai macam hal tanpa mengalaminya terlebih dahulu. Hanya sekedar memikirkannya atau bahkan ikut mencoba hal-hal baru menarik yang telah dialami terlebih dahulu oleh orang-orang ini.
Yah, aku sangat bersepakat, jika hidup ini indah, masa lalu yang telah dilewati mampu menjadi cermin dan guru masa depan. Cerminan masa yang akan datang akan terasa hadir dalam setiap kesadaran pada yang Tunggal. Menyadari hadir-Nya, sebagai penuntun dan guru yang selalu bersemayan dalam kalbu. Semoga mengantarkan kita pada indahnya masa depan.
Ishak Salim
Sebuah Botol yang Sangat Terkenal
Aku ingat, sewaktu aku masih kelas lima SD. Dengan senangnya kupamerkan botol itu kepada teman-temanku. Ini botol air mineral, ini botol Aqua. Waktu itu sebotol Aqua seharga Rp 500 dan tentu itu adalah sejumlah uang yang cukup besar untuk kurang lebih dua gelas air dalam sebuah masyarakat yang meminum air dengan memasaknya terlebih dahulu.
Botol ini sekarang sudah sangat terkenal, setiap botol pelastik dengan lekukan gelombang air di badannya akan disebut botol Aqua, walaupun dia digunakan untuk wadah selain air mineral bermerek Aqua.
Aku tidak pernah memperhatikan botol itu. Baru kali ini aku mencoba secara detail memperhatikannya dan menceritakan apa yang ada dalam botol itu.
Botol yang aku pegang ini bertuliskan sebuah kata besar “AQUA” dengan model huruf capital yang aku tidak tahu jenisnya. Tapi warna huruf itu adalah biru muda dan biru tua. Dibawah kata itu ada siluet tiga buah gunung atau pegunungan dan sebuah siluet yang membentuk sungai dan juga dengan dua warna biru yang berbeda, tua dan muda. Di bawah siluet gunung dan sungai itu ada tertulis sebuah kalimat “Air minum dalam kemasan”. Sebuah kata yang menjelaskan maksud isi botol ini. Sementara itu, diatas kata Aqua ada kat “DANONE” dan sebuah garis gembung berwarna merah. Kata ini merujuk pada sebuah perusahaan yang menjualnya. Kearah kanan ada kalimat yang sangat kecil yang berbunyi “Diproduksi oleh PT Tirta Investama, Pandaan 67156 Indonesia”, dan sebuah kode dibawahnya “SNI 01-3553-1996” dan “BPOM RI MD 249113001043”. Kode ini sepertinya kode legalisasi dari Negara, karena tertulis BPOM yang berfungsi sebagai pengontrol makanan dan minuman yang beredar di Indonesia. Latar belakang kata itu adalah pegunungan yang lebih nyata dan berwarna hijau dimana tengah gambar pegunungan itu ada garis perak yang berbentuk cekungan dan menyerupai tetes air.
Lebih kekanan lagi ada tulisan “AQUA” dan “DANONE” serta siluen pegunungan namun dengan ukuran yang lebih kecil. Dibawah ada siluen empat orang yang menari atau bernyayi. Mungkin menggambarkan sebuah keluarga bahagia. Dibawah siluen keluarga itu ada lagi seuntai kalimat yakni “Aqua memiliki komitmen untuk mnyediakan air mineral yang berkualitas untuk konsumsi anda sekeluarga setiap hari”. Ini tentulah sebuah iklan yang berfungsi merayu pembeli yang mendambakan hidup sehat melalui makan/minum yang berkualitas. Lebih kekanan ada kata-kata lagi yag berbunyi “Mata air pandaan, Gunung Arjuno”. Kata ini sepertinya merujuk pada lokasi pada lokasi dimana air itu berasal. Benarkah? Entahlah, siapa yang akan bisa membantu pembeli untuk membuktikannya. Dibawah kata itu ada pula cap dari Majelis Ulama Indonesia yang ditengahnya tertera sebuah kata mumpuni bagi umat Islam, yaitu kata halal, lengkap dengan aksara Arab.
Disamping cap itu ada cap lain yang bertuliskan “Recyeleble” dan “Crushable”. Dari katanya, lembaga ini tentu merujuk pada lembaga yang berfungsi menilai tentang ramah tidaknya sebuah produk terhadap lingkungan. Dibawah dua institusi itu ada kode bergaris-geris yang bisasa terdapat pada produk-produk kemasan. Kode yang tertera adalah 8886008 10 1053 dan kata-kata peringatan waktu penggunaannya dan yang terakhir adalah volume dari botol itu yang bertuliskan 600 ml.
Ada satu kalimat yang terlewat yang berbunyi “Setiap tetesnya berasal dari sumber alam pilihan yang terlindung di pegunungan, dikemas melalui langkah-langkah cermat Aqua untuk memastikan kualitasnya.”
Membaca
Aku coba mengingat-ingat kapan pertama kali aku bias membaca. Padahal sudah banyak kata yang kubaca. Aku bahkan tidak tahu kepada siapa aku harus berterima kasih karena telah membuatku pandai membaca. Satu hal yang kuingat tentang orang yang mengajarkan aku membaca kitab suci dengan aksara arab adalah ibuku. Tapi aku tidak tahu siapa yang mengajarkanku pertama kali aksara latin. Guru ngajiku pada saat itu sangat keras dan tegas cara mendidiknya. Sebuah rotan yang dia hempaskan dip aha atau sisi tempat duduk kami membuatku lari dan memilih ibuku.
Pagi ini Iyyan, anakku berusia tiga tahun sedang bermain-main dengan beberapa huruf yang berserakan. Dia bertanya satu-satu, Ayah, huruf apa ini? Sambil memperlihatkan satu huruf T yang terbalik. Aku sebut saja itu ‘Te’ dan dia seperti tidak memperhtikannya dan mengambil huruf yang lain dan bertanya dengan cara yang sama sampai dia menemukan sebentuk mainan yang lain. Suatu waktu aku menyuapi Iyyan. Setiap suap nasi ada password huruf yang harus diucapkannya dan aku menyusunnya menjadi sebuah kata yang menunjuk binatang atau benda mati. Misalnya suap pertama A dan dia akan bilang “A” lalu aku lanjutkan “Ayam” lalu masuklah sesuap nasi. Lalu “B” dan dia berucap “Be” dan aku melanjutkan “Bebek” dan begitu seterusnya sampai dia bosan dan memilih diam atau beralih ke bentuk permainan yang lain.
Lalu, aku mencoba mengingat-ingat lagi, siapa yang ajrkan aku pertama kali tentang huruf dan kata-kata sampai aku bias membaca. Membaca banyak kata dan kalimat.
Aku tidak bias mengingatnya siapa yang kira-kira yang mengajarkan aku. Tapi, siapa yang mengajarkan aku tentang caraku mengajarkan Iyyan tentang huruf dan kata? Bagaimana aku bisa mengajarkan sesuatu sperti itu. Mungkinkah ayahku? Mungkinkah ibuku? Aku tak jua ingat.
Agung
Limosin vs Putri Malu
Jalan senyap itu membuat mata kakiku tersayat oleh Putrid Malu. Sekitar sungai itu ku lihat menara kembar menatap hawa hangat tubuhku yang mulai kecut matahari. Sepintas ada bocah girang melemparkan sayatan jeruk, dan memintaku memakan seiris dari sayatan itu. aku pun bertanya, “Buah manis itukah yang menjadi karangan bunga kematian para gelandangan kelaparan disisimu?” kulihat mata itu mulai berkaca, kaca itu menjelma menjadi lusinan penderitaan dari perjuangan hidupnya. Dibelakangnya melintas begitu panjang sebuah limosin dengan jendela terbuka, serta terjuliur sebelah tangan melambai-lambaikan kegembiraan. Jauh terus pergi meninggalkan kubus kota dan petak-petak ruko jajanannya. Putri Malu terus menggesek kedua mata kakiku, saat ku lari mengejar limosin panjang nan sombong. Sedikit-demisedikit tanaman pun menghilang dan berhenti mengiris kedua mata kakiku. Dibelakangku kulihat bocah itu semakin jauh, duduk diatas trotoar dengan mengores-goreskan ujung jari telunjuknya ketanah. Kemudian dia berteriak, “persetan dengan semua janjimu!!!”
Lihatlah Limosin itu terhenti, ya, terhenti oleh guncangan suara bocah tak bertuan. Teriakan itu memecahkan kaca-kaca ruko jajanan sepanjang jalan yang dilalui Limosin itu. kemudian turunlan seorang perempuan dengan segenggam putrid malu ditangannya. Tangan yang begitu lembut, namun terdapat cercahan darah segar seperti yang terdapat pada kakiku.
Membaca
a…… b…… c……
a, be..i..bi, abi.
Lihat ibu, aku mengucapkan sesuatu. Mengucapkan huruf itu dari mulut mungilku. Maukah ibu mendengarku? Baiklah akan kuulang lagi.
A, be..i..bi, abi.
Terdengarkah olehmu ayah? Kata asing untuk anak seusiaku? Sekarang aku ingin semua orang mendengarkannya, aku menyebut kata abi.
Ayo siapa lagi mau mendengarku? Paman, bibi, kakek, atau… nenek. Jika Suharto masih hidup, dia pasti akan geram melihat anak Indonesia ini belajar membaca. Membaca sejarah diluar restunya. Sejarah yang dulu hanya dibacakan oleh guruku dari buku-buku yang dituliskan oleh tangan-tangan rezim. Membaca tafsiran sejarah dari banyak sudut pandang. Lihat kuburan Suharto bergerak! Retakannya semakin mengangga sambil megeluarkan asap hitam. Moncong senapan mulai muncul dari permukaan kuburnya dan siap menembak aku. Aku yang sedang belajar membaca catatan hitam perbuatannya. Aku hanya membaca sedikit dari apa yang selama ini dia impan dalam kubur munir, tukul, marsinah dan masih banyak kakakku disana.
Lihatlah peluru itu meluncur deras merentet kelangit-langit yang diikuti kepulan asap misiu. Seperti kembang api, panas peluru begitu merah terlihat diujung-ujungnya. Sekarang aku takut membaca, aku takut jika peluru itu menjemputku untuk ikut bersama liang lahatnya. Setelah aku berhenti membaca, penulis ceritaku pun berhenti menuliskannya.