Kami Menulis Tentang Hari Raya Qurban dan Bagaimana Menjadi Binatang
Ichul
Lebaran Bersama Tape
Bersilaturahmi kebeberapa daerah bugis saat lebaran sedianya kita akan disajikan makanan khas daerah, Makanan bulat dengan sedikit kuah pada alas piring kecil mungkin adalah salah satu pengisi lambung yang akan kita temui. Yah, Tape penganan khas bugis, Gambang sebutan dalam versi bahasa local. Menurut beberapa teman penganan ini juga bisa ditemui dibeberapa daerah dikalimantan namun dengan model penyajian yang berbeda. Tape Kalimantan dibungkus dengan daun pisang dan biasanya juga disajikan langsung didalam toples. Walau dapat ditemui didaerah lain tape tak serta merta tak bisa disebut pengananan khas bugis, sebab konon, lanjutan dari cerita teman saya Kalau tape dibawah ke Kalimantan oleh perantau bugis yang memang banyak menetap disana.
Makanan satu ini tak pernah absen mengisi tiap perayaan hari- hari besar islam,tapi saya kira kita tak perlu banyak berkutat pada pertanyaan seputar apa hubungannya, Islam dan Tape??!.
` Pertanyaan diatas tersebut tentunya akan membawa kita pada penelusuran jauh pada pertanyaan yang lebih banyak lagi : Misalnya sejak kapan tape diciptakan, Siapa yang ciptakan, orang bugis kah atau dari luar, Sampai pada pertanyaan mengapa tape hanya disajikan pada perayaan islam. Sepintas jawaban sedikit menghibur kuingat dari seorang teman, Tape adalah penganan tahan lama untuk tamu maka disajikan diperayaan seperti lebaran ynag waktu silaturahminya panjang sampai berhari-hari. Selajutnya Untuk lebih menyederhanakan masalah ini kalau bukan lari dari masalah rumit oleh terbatasnya literatur tentang Tape, maka kita cukup menjawab semuanya dengan sebuah tesis, bahwa semua komunitas lokal di Nusantara ini akan menyajikan makanan khasnya masing- masing di tiap hajatan keagamaannya.
Tape memang sedikit mengherankan bila melihat waktu penyajiannnya, kita tak akan mendapatkannya pada saat upacara adat ataupun pada acara pernikahan masyarakat bugis, penganan ini sepertinya hanya wajib hadir pada saat lebaran idul fitri, lebaran haji , Maulid nabi , Isra mi’raj serta hajatan islam lainnya. Tamu yang berislaturahmi kadang tanpa harus dsajikan makanan berat terlebih dahulu langsung mengembatnya walaupun layaknya tape adalah penganan pencuci mulut, entah sebab kerinduan karna tape nyaris tak dapat ditemui pada hari- hari biasa, mungkin juga oleh rasa khas tape, manis campur asam.
Hitam, Putih dan Merah adalah tiga warna tape, Warna yang ada pada tape bukan menyimbolkan apa-apa, warna ini hanya disesuaikan dengan bahan dasar beras ketan yang memang hanya punya tiga warna. Secara singkat cara pembuatanya dimulai dengan mengukus ketan sampai lembek, tahap selanjutnya ketan yang lembek dan bisa saling merekat akan dibentuk bulat- bulat seukuran bola pimpong, ketan bola pimpong yang telah diletakkan pada wadah kemudian dicampur atau ditaburi Ragi secukupnya. Ragi pada ketan tentunya dipakai untuk membantu proses permentasi yang akan berlangsung tiga sampai tujuh hari setelah wadah ditutup rapat.
Penentuan waktu tak luput dari perhatian sang pembuat tape. Lama proses permentasi akan menentukan rasa yang diinginkan, rasa manis dan asam akan semakin keras terasa bila wadah dibiarkan tertutup sampai tujuh hari atau lebih. Selain masa permentasi, pilihan warna ketan mengikut. Ketan hitam kebanyakan menjadi favorit. Kesan rasa asam manis yang lebih didapati pada hasil permentasi tape berbahan ketan hitam.
Sebagai mana pernak pernik peradaban lokal yang lain, termasuk makanan yang satu ini tak lepas dari mitos, seloroh seorang teman. Hhmm, Baru menengar juga kalo Tape punya mitos. konon menurut teman tadi, Tape tak akan kita temui didaerah atau dikota antara, tempat yang biasanya jadi tempat persinggahan perjalanan antar kota misalnya didaerah leppangeng kecamatan lapri yang berada di poros Bone- Makassar, daerah leppangeng selalu menjadi tempat singgah dan istirahat. perjalanan yang melelahkan dari makassar ke bone atau sebaliknya, daerah tersebut menjadi pilihan karna tepat barada ditengah hingga tak luput sejumlah warung makan kita temui.
Namun mitos ini lanjut teman tadi hanya berlaku bagi keberadaan tape ketan hitam. Menurut cerita dahulu tiap orang yang singgah dan mencicipi tape hitam ditempat itu akan mendapatkan celaka ketika melanjutkan perjalanannya. Contoh daerah lain yang akan sulit ditemui jenis tape hitam adalah daerah Barru, tempat singgah perjalanan dari makassar ke kota lain arah utara pulau sulawesi, begitulah temanku menutup cerita tentang mitos tape sambil bertanya padaku dalam logat makassar : kenapa di’ warna hitam selalu menjadi tanda tiap hal buruk?, termasuk warna kulitmu jawabku. Hahaha….
Ledakan tawa yang menutup pembicaraan tentang mitos tape tadi segera mengingatakanku. Ingat pada teman masa kecilku Ancu, yang rutin mencuri air tape buatan ibunya saat lebaran, air tape tersebut kemudian kami kemas dalam botol mineral untuk selanjutnya di tanam dalam tanah untuk dipermentasi sederhana selama seminggu. Hasilnya bisa ditebak, air tape tersebut kemudian rasanya akan serupa dengan tua’( minuman keras ala bugis). Meminumnya bersama Ancu bagiku akan menimbulkan kelucuan tersendiri, Ancu selalu menikmati tua’ sambil acting, berpura-pura mabuk dengan memperagakan jurus mabuk ala kungfu film mandarin sambil menggenggam botol araknya.
Mata sipit Ancu memang meyakinkan, tertawa terpingkal-pingkal akan membuat bola matanya tak terlihat. Adegan Tambahan yang melengkapi rasa terhiburku. Sedikit kebodohan dan kenakalan masa kecil tadilah yang menyambung kesan istimewaku pada Tape atawa Gambang, Walau asam manisnya kadang membuatku enggan untuk mencicipinya.
Icul,desember 08
Muslina
Debu
Debu! Kotoran tipis yang menyelimuti seluruh permukaan meja keramat persegi, tempatku belajar sekarang ini. Kotoran yang juga dapat terbang kemana pun ia menghendaki.
Saya mengenalnya sebagaimana ia, namun beberapa bulan belakangan ini, saya begitu menggilai. Bukan sebagai kotoran tentunya. Tapi DEBU sebagai komunitas orang muda, yang menebarkan indahnya cinta lewat lagu. Ia terbang dan menghinggapi setiap telinga pencinta, mengabarkan indahnya cinta dengan kasih sayang.
Kutempelkan tanganku pada meja persegi di hadapanku ini. Debunya sudah sangat tebal. Mungkin sudah lama tak dibersihkan, benakku. Sambil menyeka debu yang menempel, aku kembali memikirkan DEBU, artis idolaku saat ini. Aku jadi teringat pada senyum manis Nasheem. Sudah lama aku memikirkannya. Dengan balutan modis setiap pakaian yang di rancang sendiri dan polesan wajah yang indah selayaknya artis papan atas. Ia selalu tersenyum, memamerkan keramahannya. Tak disangka ia juga pengagum sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi dari Konya.
Ah, ada yang terlupa, janji Saleem untuk mengirimkan aku foto yang di ambil lewat kameranya. Di foto itu ada aku, temanku Lis dan si lincah Abdillah. Aku harus menagihnya untuk aku pamerkan ke teman-temanku sesama pengagum DEBU.
Teman di sampingku bersin. Namanya Ais. Mungkin ia alergi debu, karena sejak tadi ia berusaha membebaskan dirinya dari debu yang menempel di meja dan kursi yang ditempatinya untuk duduk, sambil sesekali bersin. Aku menyodorkan sapu tangan untuknya untuk membersihkan tangannya dan sekedar bersimpati atas derita kecil yang menimpanya.
Tapi ia sudah mengganggu khayalanku pada Nasheem, Saleem dan Abdillah. Akhirnya, tanpa membuat ia hirau, aku bereskan peralatanku, lalu pindah ke tempat yang lebih nyaman dan aman dari bersinnya. Walaupun aku tidak bersemangat lagi mengkhayalkan DEBU sang artis idolaku saat ini.
Semut Hitam Dalam Ayunan
Aaaaaaaaawww. Angin bertiup kencang. Peganganku hampir saja terlepas dari papan busa besar ini. Huh! dasar manusia raksasa. Mengapa ia begitu kencang mengayunkan papan ini. Aku kan ada di sini. Sejak tadi aku tertidur di papan busa empuk ini. Aku seorang diri. Kawananku sedang berburu makanan putih empuk yang rasanya hambar namun mengenyangkan. Sebenarnya aku juga ikut di dalam rombongan teman-temanku yang sejak pagi tadi sudah keluar dari sarang untuk tujuan ini. Tapi karena jalanku lamban, aku tertinggal dan tersangkut pada tumbuhan hijau kecil di taman. Sampai seorang manusia raksasa datang menabrakkan benda hitam lonjong bertali sebagai alas kakinya tepat diatas tanah, dekat tumbuhan hijau tempatku berada. Aku terlempar dan tak sadarkan diri. Pada saat kembali sadar, aku sudah berada di atas besi emas dekat alas kaki hitam sambil terayun-ayun lembut.
Aku mulai memeriksa seluruh tubuhku dengan kesadaran penuh. Mudah-mudahan saja tak ada yang kurang, gumamku. Aku mulai bergerak pelan, bergerak ke atas menyusuri besi emas ini. Sambil merayap, aku berharap tempat yang ada diatas jauh lebih nyaman. Perlahan, sambil menoleh ke bawah, aku merinding karena aku sudah berada di ketinggian setinggi tunas pohon. Ah, aku sampai di tepian papan berbusa. Papan ini begitu indah, diatasnya terhampar busa empuk seperti alas tidur. Sandarannya terbuat dari besi yang di cat warna emas. Penyangga papan dan sandaran besinya juga terbuat dari besi persegi yang apabila terlihat dari kejauhan bentuknya seperti rumah. Indah sekali, tempat ini jauh lebih nyaman dari sarang kami yang dingin dan gelap di dalam tanah.
Aku mengamati seputar papan busa ini. Pemiliknya, seorang manusia raksasa yang ukurannya lebih kecil dari pengayunnya, sedang asyik bermain dengan beberapa mainan di dekatnya. Mainan terdekat dari aku, sebuah panda berbulu putih hitam. Tapi binatang ini tak bergerak, juga tak mengeluarkan suara. Mungkin sudah mati, aku tak tahu. Ia tergeletak diam menunggu tuannya membelai bulunya yang lembut, mungkin. Aku jadi teringat pada saudara sepupuku. Seekor semut hitam manis yang sangat baik hati. Ia selalu mengajakku bermain di bawah pohon besar rindang dekat sarangku. Ia juga berukuran lebih besar dariku, mungkin karena kesukaannya akan makanan yang melebihi aku. Ia seringkali berbagi jatah makanannya denganku, terlebih jika aku malas untuk ikut dengan kawananku berburu makanan. Ia selalu memberikan jatah makanannya. Mmh, aku merindukannya. Namanya Wiya. Sekarang ia harus ikut bersama orang tuanya untuk berburu makanan ke tempat yang lebih jauh dan juga untuk mencari sarang yang baru. Sarang yang kami tempati berada di hutan kecil, tidak jauh dari ayunan tempatku berada sekarang. Konon katanya keluarga Wiya akan mencari hutan kecil, yang di dekatnya terdapat sebuah danau kecil. Jarak tempuhnya adalah dengan berjalan seharian penuh dari tempat kami berada sekarang. Mudah-mudahan Wiya baik-baik saja sekarang.
Aku kembali mengamati si manusia raksasa. Ia menyelimuti binatang Pandanya dengan kain seukuran binatang itu. Sepertinya kain itu begitu lembut, kesan dari warna biru muda yang aku rasakan. Ibuku pernah bercerita bahwa warna terkadang dapat mengekspresikan kepribadian seseorang. Warna biru, kata ibuku, melambangkan kepribadian yang tenang, lembut dan cerdas. Ibuku sangat menyukai warna itu. Dari cerita ibuku itu, aku selalu menginginkan warna biru lembut. Meskipun kulitku yang hitam gelap tak pernah sepadan dengannya.
Aku bergeser ke tengah papan busa ini. Aku tepat berada di samping manusia raksasa. Aku melihat langit. Sudah sangat terang dan panas. Yah, hari sudah siang. Tiba-tiba, Aww! Perutku sakit. Ya ampun! Aku belum makan. Aku berputar-putar. Mmmmhh, wangi. Bau makanan. Asyik, asyik….. aku menemukan remah-remah. Rasanya seperti busa, padat tapi lembut, rasa hambar tapi mengenyangkan. Meski tak terlalu banyak, tapi cukuplah untukku. Wah! Apa ini? Seperti wangi manisan. Aku jilat, manis dan enaaakk. Tapi ups, apa lagi ini? Seperti tikar kecil. Keras seperti daun kering. Warnanya putih tapi kotor. Kujilat, manis dan waaaahhh!!!!! Aku berguling ke kiri, ke kanan. Manisan ini menempel pada tikar keras. Warnanya coklat, manis dan banyak. Senangnya! Ah, aku tidak menyesal tertinggal dari kawananku. Tapi makanan ini tak mampu kubawa pulang. Kalau begitu, aku habiskan saja sekarang.. ha..ha..ha..
Kedua raksasa ini tiba-tiba mengeluarkan suara yang keras. Mereka bercakap-cakap. Tak lama setelahnya, mereka meninggalkan ayunan ini. Wah, aku bisa santai. Tak ada raksasa dan juga tak ada hewan yang akan menggangguku. Santai dan kenyang.
Tapi, tunggu! Ada yang menggangguku. Tak jauh dari tepian papan busa ini, ada sebuah mainan. Yah, seperti bentuk manusia raksasa tadi. Bagian tubuh atasnya terurai rambut panjang berwarna kuning keemasan. Tubuhnya jauh lebih kecil dari manusia raksasa. Kulitnya putih, matanya biru dan setengah dari badannya dibalut kain berwarna merah jambu. Bentuknya sangat indah. Aku mencoba membayangkan kawananku. Kira-kira siapa ya yang mewakili perawakan mainan ini? Yah, aku ingat. Teman sebayaku, namanya Nia. Meskipun hitam, tapi gerakannya gemulai. Suaranya lembut kala ia berbicara. Ia jarang memarahi temannya. Dan satu lagi, ia adalah semut tercantik di kawanan kami. Mainan indah itu menggenggam tongkat hitam kecil. Saya berlari menuju tongkat itu. Berjalan diatasnya dan mencoba merasakan kekuatannya. Yah, tongkat ini begitu kuat, sekuat batang pohon muda di hutan sana. Tongkat ini panjang, ukurannya akan sama dengan lima puluh semut hitam berbaris tanpa terputus. Ups, kaki saya terpeleset. Hampir saja terjatuh. Tongkat ini sangat licin dan mengkilap disertai ukiran indah pada ujung bawahnya. Saya pernah mendengar cerita dari nenek saya. Konon katanya manusia sangat senang mengukir badan, kaki dan tangannya. Mereka senang akan keindahan dan mengukirkannya pada tubuh. Terkadang juga ukiran dapat bermakna mantra untuk mengusir roh jahat dalam diri manusia.
Ketenangan dan kenikmatan yang aku alami dalam ayunan ini harus terhenti sejenak. Tiba-tiba saja ada manusia raksasa yang datang. Badannya dibalut dengan kain berwarna putih. Di bagian tubuhnya paling atas juga mengenakan kain berwarna putih. Ia dengan sigap membersihkan semua mainan yang ada di ayunan. Mengambilnya satu per satu dan meletakkannya dalam wadah bundar yang sangat besar. Tanpa berpikir panjang aku berlari sekuat tenaga dan menghiraukan semua yang ada di sekelilingku. Pandanganku tertuju hanya ke depan, mencari jalan yang tercepat untuk sampai ke tanah. Wah, selamat. Aku melompat dari ayunan. Badanku terguling ke tanah. Dan berlari menuju hutan tempat sarang dan kawananku berkumpul.
” Bangun…. bangun! Hari sudah sore, nak ”. Ibu membangunkan aku. Rupanya aku hanya bermimpi. Seekor semut hitam pemalu tiba-tiba mempunyai keberanian melakukan perjalanan mengasyikkan seorang diri. Wah! Semoga saja kelak mimpiku bisa menjadi nyata. Aku dapat berpetualang menikmati indahnya peristiwa alam dan menikmati hidup.
Agung
Selamat Hari Daging, Dewiku
Hingga pukul 21.48 WITA Parlan terus memegangi buku yang sebenarnya tidak dia baca. Menggencet busa filter rokok dengan bibirnya, nampak mengempes dengan kemilauan cahaya air dipinggirannya. Dilingkarnya ada tukikkan lubang berbentuk gigi, pasti dia menggigit halus rokok yang sudah terbakar melewati dua garis merah pembatas tembakau dengan filter. Dibukanya terus buku itu hingga lecak terlipat, seperti kitab terbedah oleh ahli kitab. Tapi semua tahu dia tidak sedang membaca. Keyakinan makin menguat dengan melihat matanya menatap kosong, mata yang menatap rumahnya yang berjarak puluhan kilometer dari tempat duduknya. Bahasa tubuh itu sungguh aneh, gerak ingin segera beranjak namun senantiasa ada puluhan tali rapiah meliliti tubuh 65 kilogram itu. Langit-langir ruangan sigap menghimpit rendah berusaha membuat Parlan enggan bangun dari duduknya. Langit-langit ini bekerja sama dengan pintu ajaib itu. Pintu yang berubah menjadi hamparan vertikal permukaan setrika, benda panas yang pernah membakar habis baju kesayangan Parlan, hadiah ulang tahun dari Leni delapan tahun yang lalu. Delapan tahun yang lalu bukan hanya sebagai tahun terburuk bagi baju kesayangan Parlan, tapi juga sepedanya yang digantung tantenya di atas pohon mangga hingga berlumuran karat karena air hujan. Juga buat Bobi, seekor burung peliharaan Parlan yang kerap menemaninya sarapan mi goreng dan telur godok yang mereka santap bersama. Bobi mati di tahun itu. Yang memperparah kematiannya adalah Bobi hangus terbakar tertindih strika panas setelah membakar hangus baju kesayangannya itu. Setrika itu terjatuh saat Parlan meninggalkannya dengan kesal. Parlan kesal karena tantenya mendesaknya untuk menaikkan sepedanya sendiri ke atas pohon mangga. Itu adalah hukuman yang dijatuhkan padanya karena tantenya kecewa dengan sikap Parlan yang jarang di rumahnya sendiri.
Sepertinya hujan baru saja turun menertawai Parlan, atau kasihan melihatnya. Seluruh geliat lampu jalan yang menari melintasi mata Parlan. Satu-persatu melompati Parlan yang melamun, namun sedikit terjaga menatap keluar jendela ankutan kota malam itu. Tidak ada yang dikenalnya, sesaat itu dia menjadi asing dengan sistem sosial yang berlaku di atas angkutan kota. Semua manusia saat itu sibuk dengan pikirannya, Parlan justru sibuk memukuli jiwanya dengan gelas berisi kopi agar hilang rasa ngantuk itu. Saat terjaga, telinganya berdelik mendengar nyanyian Leni dari sebuah radio kendaraan. Suaranya begitu keras, cukup untuk membuat kesal orang di sebelahnya yang hendak menerima panggilan lewat handphonnya. Memerah wajah Parlan ketika nyanyian itu berganti dengan ucapan selamat hari raya kurban bagi yang merayakannya pada sebuah iklan radio. Parlan menampakkan ketidak puasannya karena sedang asik mendengar suara kekasihnya itu. Ingin dia protes atas hal itu. Tapi sekali lagi, dia tidak mengenal sopir angkutan pemegang kendali kendaraan yang bisa membawanya pergi kestasiun radio, atau mengenal operator radio yang mengendalikan suara apa yang akan diperdengarkan lewat udara selanjutnya.
Banyak sekali makanan terhampar di atas meja. Acara apa yang punya kekuatan hingga mampu mengundang banyak hidangan. Ketika Parlan masuk, seluruh keluarganya asik bercerita tentang kegembiraan. Parlan merasakan keceriaan itu dari pemandangan tawa, teriakan, Kemenakan-kemenakan yang terus berlarian, kerabat lain yang menikmati minumannya dan televisi yang tidak lagi menarik buat mereka, setidaknya untuk saat itu. Mereka yang di dalam ruangan menjadi selebritis bagi tempelan dinding penghias. Sovenir, lukisan, foto-foto keluarga, buku-buku pajangan dalam lemari, semuannya jadi penonton keceriaan mereka. Temasuk Parlan yang baru saja tiba di rumahnya. Namun udara kamar parlan yang sejak lama ditinggalkannya, telah menariknya dengan tali lasso tepat dileher rasa malasnya. Selimut-selimut keringat telah mempermalukan aroma wangi sabun mandi, kotoran-kotoran yang terselip di sela-sela gigi memenangkan perang aroma pasta gigi. Tidurlah parlan, lupakan kotoran itu, rasa malas lebih giat merayunya. Rayuan berkoalisi dengan kasur hangat, ditambah aroma tanah yang dibasahi air hujan serta udara sejuk hujan tropis.
Dengan menutup wajahnya, Parlan memulai angannya untuk mendapat mimpi terindahnya di hari yang biasa ini. Menjadi raja di negeri nan makmur, menjadi sepupu Nabi Yusuf sampai bertemu kekasihnya, Leni seumur hidup mimpinya. Tertidur dan bersiap untuk hal membosankan.
Parlan terbangun oleh alaram khas Tantenya yang telah siap sejak tadi dengan kostum kebangsaannya, sebuah busana muslim merah hati lengkap dengan kerudung dan sajadah dan gulungan koran terselip di lengannya. “Pergi shalat Parlan, sudah jam enam!” sambil menyodorkan tiga lembar uang pecahan seribu rupiah diletakkan di atas meja yang jumlahnya itu sesuai jumlah kotak amal yang akan disodorkan petugas masjid saat ceramah nanti. Ritual pun dia lalui, padahal sejak lama Parlan selalu mengingat Tuhannya, disetiap gelisahnya, tawanya, masalahnya, langkahnya bahkan keraguannya. Namun masjid menjadikan Tuhan itu terpenjara. Terpenjara dalam desakan sav, dalam pengeras suara kebesaranNya, dalam lantai putih penjaga masjid, dalam mimbar tempat telapak uztad, pintu yang tertutup rapat saat usai waktu sahalat, dalam keran air wudhu pembersih najis dan kubah besar kesombongan manusia yang meletakkan bulan serta bintang buatan Tuhannya.
Setelah kembali masuk dalam rumah, Tantenya menyodorkan lagi empat lembar kertas dan memerintahkan agar Parlan bergegas kembali ke masjid untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban sumbangan warga. Hal yang paling Parlan sukai saat kecil adalah melihat proses itu bersama Ayahnya. Berdiri sambil memeluk kakinya, sesekali menutup matanya dan menangis sedih melihat hewan yang rubuh terhempas terlilit tali. Hewan itu sepertinya tidak ikhlas darahnya akan dikuras dan dagingnya masuk dalam panci berisi bumbu kare. Tapi sekarang Parlan sendiri menyaksikannya dari kejauhan. Ada lima sapi yang akan disembelih, satu-persatu hewan itu dikuliti namun Parlan masih bingung dengan empat lembar kertas bertuliskan nama lengkapnya. Ketika sapi terakhir hendak dirubuhkan, terdengar imam masjid memanggil nama Parlan, lengkap dengan nama Ayahnya untuk segera mendekat menyaksikan langsung, seraya berdoa dihadapan kurban. Hewan itu dikurbankan atas namanya. Parlan yakin benar dia tidak pernah mengeluarkan uang jajannya untuk membeli seekor sapi. Atau Ayahnya membelikannya sebagai ganti warisannya yang Parlan pikir hanya hutang yang ditinggalkan saat meninggalkannya. Sekali lagi Parlan diperintahkan untuk mengikuti petunjuk ritual serta ajiannya. Tapi dia masih binggung sekaligus terharu sampai-sampai bukan doa yang Parlan lafazkan, tapi ucapan, “Selamat hari daging, semoga semua manusia bisa menikmatinya hari ini.”
Parlan merasa kurang nyaman sejak saat itu, apalagi setelah tahu bahwa Tantenya membeli seekor sapi untuk dikurbankan atas namanya. Suasana keakraban yang biasa hadir diantara mereka hilang dalam beberapa saat. Dingin, sedingin daging sapi beku dalam frezer. Parlan bingung dengan sikap diam Tantenya, yang tidak memberitahukan niatnya untuk membelikan Parlan seekor sapi. Parlan rasakan telah menjadi Nabi Yusuf, bukan lagi sepupu Nabi Yusuf dalam harapan mimpinya. Nabi Yusuf yang mengurbankan ketampanannya untuk ditutupi kosmetik. Kosmetik yang mampu menutupi keindahan wajahnya dari mata-mata kotor berdebu. Dan Parlan menganggap Tantenya sebagai dewi yang memberikan wajah indah pada Nabi Yusuf, cinta seorang Ibu.
Untuk dia yang dingin, acuh tapi diam-diam menyayangiku, bukannya aku tidak memperhatikanmu, aku hanya manusia yang tidak mampu membalas kebaikanmu. Percayalah aku juga menyayangimu seperti kau menyayangi keluargamu.
Peliharaan HaramMu
Huff.. ada lagi yang harus kulakukan. Padahal tadi aku pikir itu yang terakhir. Terakhir untuk hari ini, dan saatnya istirahat. Kurasakan tadi waktu begitu panjang mengerjaiku yang terlihat lelah. Waktu sengaja mengolok-olokku karena dia tahu aku sedang lelah. Aku yang terus memperhatikan waktu. Namun semakin aku perhatikan jam yang bertengger itu, semakin gemulai putaran jarum lambannya. Aku telah melemparnya hingga berkeping-keping. Melemparnya dengan tatapan harapan dan kebencian yang membuatnya terpelanting jauh menuruni jurang curam dinding. Aku tertawa saat itu. Tertawa memamerkan rapinya gigiku, warna segar lidahku dan coba menertawai semua yang berharap jam itu akan berhenti. Yang pasti diriku yang bergigi jarum jam warna perak emas.
Aku tahu alurnya, setelah ini aku pasti akan memperkenalkan dirilku. Diriku pada paragraf sempit sekitar empat sampai delapan baris. Yang pasti aku giat melakukan sebuah terapi dengan lidah, bagian dari tubuhku yang kerap aku gunakan. Setiap helai bagian tubuhku disapu dengan permukaan lembab agak basah, namun hangatnya terasa singgah lama, walau angin terus membumikan sejuknya. Inderaku yang kedua adalah penciuman. Mengapa kusebut kedua, karena aku berharap semuanya yang akan menggambarkan diriku, akan berfikir seperti yang aku inginkan. Cukup terampil menghidu makanan apa yang dimasak oleh nyonya Fani, lima ratus meter dari tempat buluku menyentuh kayu rumah. Namun sekeras apapun aku melakukannya, mereka masih saja menganggap aku makhluk haram. Semua cara telah kutunjukkan pula untuk menampakkan keistimewaanku yang lain, tapi usaha itu membuatku menggali air ditengah lautan dengan sendok makan. Aku yang mereka kenal tetap saja haram, bukan sigigi tajam.
Ruang tempatku selalu berlari ini begitu luas untuk tubuhku, tapi tidak untuk hatiku dan penciumanku. Dengan letak gedung berjejer rapi menjulang keatas serta jalan aspal yang mulus terus mengasah kuku jariku untuk tetap halus. Oval park adalah tempat kesayanganku. Rumput yang tumbuh disana begitu hijau, mungkin jika seekor kambing kelaparan berada disana, dia tidak akan menghukum dirinya ketika tidak berusaha untuk memakan ruh segar hijau itu. Diruang yang sering mereka sebut kota ini, telah menghancurkan sebagian besar indera yang aku miliki, apalagi bagian dari diriku yang paling aku banggakan. Untunglah aku memiliki kesabaran, apa yang tersisa dari diriku. Namun aku tetap dianggap haram, bukan si pemaaf kesalahanmu dan kesalahanku.
Kini aku tidak lagi menelan air liur, karena akulah yang paling berhak atas cairan penggerak lekukan kerongkonganku. Lekukan yang bergerak dengan tonjolan berjalan kearah bawah, yang dapat dilihat saat aku menelan air itu. Aku memutuskan tidak menelannya lagi, aku belum meminum air dari luar tubuhku sejak dua hari ini. Air itu begitu keruh dengan bayang-bayang pelangi diatas permukaannya. Jika aku meminumnya kurasa sedang menelan lumpur bercampur minyak tanah, rasa kecut yang aneh. Konon air yang dulu biasa aku minum di parit seberang tempat tinggalku, jika diminum dapat membuatku nampak segar dan awet muda. Sekarang jagankan meminumnya, melihatnya saja cukup membuat mataku berubah jadi merah oleh uap hangatnya. Kini tidak ada lagi air dari kelenjar liurku, yang tersisa adalah aku yang haram, walau tidak lagi ada air liur haram yang aku miliki.
Aku sering ditokohkan dalam lakon yang sama sekali aku tidak sukai. Pemalas, terlihat sedikit bodoh, kasar dan tidak kalah kejam dengan tentara bayaran. Ini biasa aku lihat dalam film animasi anak-anak jenis mahluk sepertiku digambarkan untuk berlaku general. Televisi itu telah merusak diriku yang awalnya telah rusak. Seharusnya dia tidak mengambil peran menghancurkanku. Apa aku seperti ketakutan mereka atasku. Imaji egois penilai diluar indera serba terbatas, sedikit congkak padahal tidak bisa melihat lurusnya pensil dalam gelas berisi air itu. Atau hanya sekedar tahu suara apa dibalik tembok, yang dia pikir suara Omas adalah suara Luna Maya. Atau membedakaan gumpalan pantat dengan gumpalan payudara dengan merabanya. Hanya perasaan saja yang buatnya berbeda. Aku bukan hanya haram oleh pikiran, tapi nampak bodoh dalam kotak ajaib televisi.
Bayangkan saja aku kehilangan ingatanku, dan sedikit rabies. Penyakit mengerikan, hingga tidak seorangpun mau mendekatiku saat aku bersuara. Bahkan sang tuan, orang paling berhak atas diriku. Dia tidak tahu betapa mengerikannya saat aku membayangkan penyakit itu. Ingin saja aku gigit mata kakinya yang keras dengan gigiku yang cukup panjang. Kugigit hingga tulang berbentuk tempurung itu retak dan rambut pirang itu kutarik dengan keempat kakiku hingga rontok semua. Warna pirang kecoklatan yang buat kakiku senantiasa bergetar mendobrak bumi yang aku pijak. Bergetar ingin mencabuti seluruh rambutnya perlahan-lahan dalam jumlah yang banyak. Andai aku tahu rasa sakitnya, semakin ingin aku melakukannya pada si pirang itu. Kini aku menjadi keji dan sadis, namun tetap saja semua itu kalah populer dengan anggapan bahwa aku haram.
Mungkin aku tidak cukup pandai untuk mencari tahu tentang label yang mereka lekatkan padaku. Namun yang pasti ada nilai yang berusaha mendiskreditkan posisiku dimasyarakat sebagai mahluk Tuhan. Nilai itu tertanam indah disanubari mereka hingga enggan untuk mereka berusaha membelaku. Setidaknya menanyakan pada nilai itu, bagaimana dengan nasibku, apakah ada keinginan bagi mereka mengubahnya. Sepanjang usiaku yang kerap dan akan selalu berlabel haram di setiap keistimewaan yang aku munculkan. Padahal awalnya niatku untuk memunculkan keistimewaan itu adalah untuk menutupi label haram. Namun tetap saja dia hadir, menjadi pamongpraja yang siap menggusur paksa jualan keistimewaan yang aku miliki.
Sebagai binatang di kota ini, mereka memeliharaku sebagai satpam rumah mereka. Aku terlihat keji dimata mereka dan dianggap tega menggigit siapapun orang yang tidak aku kenal. Namun mereka tidak pernah berfikir jika aku memiliki perasaan bersalah sama seperti mereka. Jika perasaan kasihanku aku pergunakan, serentak mereka memarahiku dan semua cemooh buruk bersarang padaku. Tapi jika salah satu tuan yang memeliharaku melepaskan sisi kemanusiaannya, maka manusia lain mencemooh perbuatan tersebut. Aku tetap saja tidak pantas untuk itu, untuk lebih berperasaan. Rantai yang senantiasa melingkari leherku, dengan tegas menegaskan kebringasanku. Anak-anak kecil berlarian saat aku melolong memohon pertolongan mereka untuk melepaskannya. Namun yang buat tubuhku terus bertahan hidup karena mereka terus memberikanku makanan yang bergizi. Terus membersihkanku dari kuman dan kutu, serta memberikanku vaksinasi agar terbebas dari penyakit yang mereka takuti juga. Tapi sekali lagi aku ingin mengidap rabies. Aku ingin menggigit tuanku yang memasangkan rantai itu. Aku ingin menggigit semua mahluk sejenisku, bahkan aku ingin menggigit rantai yang telah menjadi temanku selama 12 tahun ini. Terakhir aku ingin menggigit diriku yang haram ini, agar tidak ada lagi mahluk haram sepertiku, karena hanya mereka yang menganggapku haram yang penuh kesucian, semoga.